Jumat, 28 November 2014

Gelisah Seorang Pecandu Rindu


Kepada kamu yang dirindu
Perkenalkan aku seorang pecandu rindu
Seorang pecandu yang mengumpulkan rindu beribu
Menanam dalam hati berharap lambat laun dapat tertuju

Aku karang yang terhempas ombak kencang
Aku api yang kian lama kian mengerang
Aku daun yang goyah dari ranting yang rindang terbentang
Aku satu dari ribuan ilalang dipadang

Aku bertanya inikah risiko yang harus ditanggung oleh hati
Rasa tak sanggup untuk menutupi
Rasa gusar yang terus ingin ditanggapi
Rasa gelisah yang menggelayut  ingin ditabahi

Bagai diri yang bisu
Aku hanya mampu manahan pilu
Pilu atas rindu yang menggebu
Menanti seorang yang diandai datang ingin bertemu

Jumat, 21 November 2014

Aku, ya aku memang tidak pernah pandai dalam mencintaimu, aku bukan lah orang yang bisa mengertimu seutuhnya. Aku memang tidak bisa meyakinkanmu perihal ini. Aku memang bukan dirinya yang bisa sepenuhnya kamu inginkan. Aku memang tidak bisa melakukan apa yang dia lakukan untukmu.  Aku disini hanya setitik noda dari ribuan coretan pada kertasmu. Dengannya.  Aku tidak bisa mengubah apapun. Aku tidak akan pernah bisa memberikan coretan yang sama pada kertasmu. Aku bukan dia yang bisa mencintai seperti dia yang mencintaimu dengan utuh.
Aku disini hanyalah diri yang mencoba untuk melakukan itu, menerka-nerka seperti apa cinta yang kau inginkan. Menerka-nerka seorang diri semua tentangmu, hanya seorang diri. Melawan semua angin yang mencoba untuk menjatuhkan tegak berdiriku, terhadapmu. Aku hanya seorang yang sedang mencoba memberimu perlahan ketulusan yang kupunya ini. Ah, tidak sampai kapanpun aku memang tidak akan pernah bisa pandai dalam mencintaimu. Buktinya aku tidak berhasil untuk membuatmu tersenyum seperti yang kuinginkan waktu itu walau hanya sekali lagi, saja. Ternyata benar mencintaimu bukanlah perkara yang mudah, sebab aku harus berkali-kali terjatuh. Menikmati kesakitan yang kubuat sendiri, memilih untuk menikmati rindu yang tiada pernah bisa tertuju, memasuki ruang yang terkunci itu, hatimu.
Katakan padaku apa yang harus aku lakukan? Berhentikah? Menyerahkah? Itukah yang harusnya kulakukan? Tenanglah perihal itu aku pernah mencobanya, tetapi hati kecilku mengatakan aku harus tetap bertahan dalam cinta yang memakan hatiku sendiri. Hei bukankah ini pertanda bahwa aku sedang belajar mencintamu dalam kepedihanku?
Bimbang, aku takut untuk menyerah. Sungguh.
Bolehkah aku meminta satu hal darimu? Hanya satu saja? Bolehkah? Aku hanya meminta kepadamu tolong ajari aku bagaimana cara mencintaimu dengan benar layaknya ayahku yang mengajariku bagaimana caranya berjalan dengan benar tanpa harus tersandung batu didepan mataku. Atau mungkin dengan sangat berat hati dan sebenarnya tidak ingin kulakukan, tolong ajari aku untuk tidak lagi mencoba untuk mencintaimu.

(Tapi dalam hati terkecilku aku memohon bahwa kamu tidak pernah menginginkan aku untuk menyerah dalam mencintaimu).

Sabtu, 08 November 2014

Aku benci dengan malam. Karena malam selalu berhasil membedah memori diotakku. Dan yang paling parah adalah ia selalu berhasil membedah memoriku tentang kamu. Hanya kamu. Mengapa setiap malam datang kamupun selalu datang dalam pikiranku. Ini salah otakku yang terlalu kosong, atau memangkamu sengaja masuk dalam pikiranku untuk selalu aku pikirkan. Memikirkanmu memang tiada pernah habis. Akupun tak pernah mengeluh bila tiba-tiba aku teringat kamu. Aku menikmatinya, sepertinya ini sudah menjadi menu sehari-hariku. 
Mungkin ini memang salahku yang menganggap semuanya akan berakhir bahagia. Aku salah. Aku telah ditampar dengan ribuan besi panas yang tajam yang mengiraku untuk berhenti dan menyerah. Aku telah ditampar dengan kenyataan-kenyataan yang tak sedikitpun sesuai dengan apa yang aku ucapkan dalam keluh kesahku pada pemilik semesta. Aku bukan yang kamu inginkan. Aku memang tidak pernah kamu inginkan.
Bodohnya aku yang telah dengan lancang mengharapnya pada Tuhan untuk menjadi hidupku. Bodoh. Harapanku terlalu tinggi untuk kucapai dengan sendirinya. Pada kenyataannya, aku tak sanggup membuka kunci hatimu yang mungkin telah berkarat menyimpan namanya. Aku telah gagal membersihkan hatimu yang telah usang. Aku tak bisa meluluhkan hatimu. Maafkan aku yang mempunyai perasaan yang tak pantas ini. Aku bahkan sadar bahwa kesia-siaanku telah nyata didepan mataku. Lalu apa lagi yang bisa aku perjuangkan dari kesia-siaan ini Tuhan? 
Tak sekali aku bergelut dengan diriku sendiri. Berdebat antara pergi atau bertahan. Aku ingin bertahan. tapi kenyataanpun yang harus memilih pergi. Tidak. Aku masih ingin bertahan dalam keterpurukanku untuk sekedar bisa bersamamu yang sulit untuk kugapai. Aku hanya mengandalkan suaraku untuk Tuhan agar mau mengabulkan pintaku terhadapmu. Salahkah bila aku meminta seperti itu kepada Tuhan? Semoga kamu jawab tidak 
Karena mencintaimu bukanlah perkara yang mudah. sebab aku harus berkali-kali menyerah dan kemudian bangkit untuk kembali mencintaimu. Maaf.

Senin, 13 Oktober 2014

Semoga Kau selalu Bahagia

Kulihat jam dinding diruang tamu dirumahku, pukul 06.30 terlihat jelas dimataku. Ah sialan aku terlambat lagi kesekolah. Aku buru-buru untuk memasukkan buku pelajaranku dan memakai sepatuku. Ini hari senin. Upacara. Aku tak boleh terlambat kecuali aku siap untuk distrap berdiri didepan murid lain yang sedang upacara.
“Mah, Tyas pergi dulu udah kesiangan banget nih, Assalamualaikum.” Ucapku buru-buru.
“Iya Waalaikumsalam, hati-hati ya Yas.”
Tak kuhiraukan perhatian ibuku, aku langsung mengendarai motorku yang sudah kupanaskan sedari pagi.

“Ayo cepet cepet udah mau dimulai upacaranya!” ucap Pak Darmanto. Dia memang guru yang tegas, bukan tegas tapi galak.
Aku cepat cepat memilih tempat dimana teman-teman kelasku berada. Yap akhirnya aku berdiri sejajar dengan teman-temanku. Huufft.
“Tuh Yas liat disamping gue siapa? Hehe.” Ucap Vera kegirangan. Aku baru sadar ternyata disebelaku adalah barisan kakak kelas. Kulihat disebelah Vera adalah Kak Andri. Ya, Kak Andri adalah sosok yang banyak diagungkan oleh teman-temanku. Aksinya yang sangat keren ketika mendribel bola basket dan menuntunnya memasukkan ke ring dengan loncatannya yang indah memang tak dapat diragukan lagi. Sangat keren. Wajah yang tampan juga menjadi nilai tambah baginya dan semakin banyak yang mengaguminya. Termasuk Vera.
“Kak Andri? Yelaah lebay lo ah.”
“Lo jangan keras-keras napa ngomongnya, tar kedengeran kan gue malu kampret.”
“Haha nggak bakal lah lagian ini berisik banget.”
Upacara berlangsung khidmat setelah kepala sekolah memarahi semua murid karena tidak mau diam. Kepala sekolah ku memang terkenal seram, dan tentunya ditakuti oleh semua murid termasuk aku. Untuk ukuran siswa baru aku sangat takut kepada beliau.
Upacara berakhir, seperti biasa siswa tidak berlarian menuju kelas, tetapi kantin. Ya, kantin penuh setelah jam upacara berakhir. Banyak murid yang tak bisa mengantri untuk membeli makanan hingga banyak aksi dorong-dorongan yang terjadi juga banyak teriakan yang mengatakan bersabarlah. Yap, aku berhasil mendapatkan sekotak nasi goreng dan juga air mineral. Nasi goreng itu akan cepat habis bila memang kita banyak mengalah dan tidak berusaha untuk berebut. Leganya, setelah itu aku dan Vera kembali menuju kelas.
“Aaaah Tyas, kamu liat gak tadi juga waktu kita beli sarapan, ada kak Andri loh?” ucap Vera genit. Dia memang sangat mengagumi sosok Kak Andri. Entahlah aku tak tahu apa sebabnya. Kupikir dia terlalu berlebihan dalam mengagumi seseorang.
“ Iyakah? Ko aku gak liat ya?”
“Iya gak bakalan liat lah, kamu kan sibuk berebut ngambil nasi goreng, bzzzzz.”
“Ahaha iya benar juga, habisnya aku laper banget tadikan gak sempet sarapan dirumah.”
“Ya ampun lagi rebutan makanan pun Kak Andri tetep kece maksimal. Huhuhu andai aku bisa jadi pacarnya.” Kata Vera mengandai-andai.
“Helloooooo, bangun! Matahari udah tinggi juga hahaha mimpi mulu lo!” kataku mengejek Vera.

Pelajaran dimulai, kali ini mata pelajaran Biologi, dengan gurunya Bu Tantriawati yang mampu membuat murid-murid larut dalam mata pelajarannya. Pembawaannya yang asik membuatku juga mudah mencerna pelajaran ribet itu. Ah sialnya, selalu banyak tugas yang harus diselesaikan dengan tenggang waktu beberapa hari saja, bila tidak mengumpulkan tepat dengan waktu yang telah ditentukan dia akan mengamuk habis-habisan. Tetapi itu justru yang membuat murid jadi rajin.

Seperti biasa hari-hariku dipenuhi dengan tugas yang menumpuk untuk minta diselesaikan, tak ada yang istimewa dengan hari-hariku, hanya saja aku selalu diganggu dengan cerita yang sama. Vera dan Kak Andri. Ah, apakah seperti itu rasanya mengagumi seseorang? Sampai hari-harinya tak pernah bisa lepas dari cerita tentangnya. Sebernarnya aku lelah mendengar semua cerita tentang Kak Andri. Karena setahuku dia sudah memiliki kekasih, bahkan itu sudah bukan rahasia soerang saja, tetapi satu sekolah bahkan guru-guru pun tahu. Tentunya wajar bagi seorang yang sangat terkenal disekolahnya karena prestasinya dibidang olahraga. Tetapi, apakah seseorang yang hanya bisa mengagumi bahkan tak memikirkan bahwa yang dikagumi sudah memiliki seorang yang telah menjaga hatinya dengan utuh? Apakah dia tak merasakan sakit hati? Ah, entahlah aku tidak mengerti akan itu, tapi yang jelas Vera tetap mengagumi sosok Kak Andri. Tak peduli keadannya seperti apa. Mungkin.

Bel istirahat berbunyi, aku memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan. Aku memilah-milah buku yang sekiranya menarik. Ah, akhirnya aku mendapatkan novel untuk kubaca selama jam istirahat berlangsung. Aku segera mencari tempat duduk senyaman mungkin agar aku konsentrasi dengan apa yang kubaca.
“Dor!!! Tumben ke perpus? Biasanya juga ngegosip hahaha”. Seseorang membuyarkan konsentrasiku. Kulihat siapa yang mengagetkanku. Ah, dia.
“Hehe, iya nih Ka, abis bete nyari suasana tenang aja.” Ucapku pada Kak Rengga.
“Oke, semangat ya hehe.” Ucapnya sambil meninggalkanku mencari buku yang ingin dia temukan. Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan apa yang sedang aku baca.

Flashback!
Kak Rengga adalah Kakak kelasku sedari SMP. Jujur saja aku cukup kagum dengannya. Aku mulai mengaguminya ketika Masa Orientasi Siswa di SMP, kala itu semua murud baru diharuskan mendapatkan tanda tangan ketua osis. Ah, aku gagal mendapatkannya. Awalnya aku tak pernah tahu seperti apa wajah ketua osisku itu, sampai akhirnya aku diberitahu oleh temanku bahwa ketua osis kami adalah dia. Siswa kelas IX A, cukup tampan. Wajahnya yang manis dan tubuhnya yang tinggi mampu membuatku mengaguminya. Hanya kagum saja, tidak seperti Vera temanku yang tergila-gila oleh Kak Andri.
Tak disangka aku pun masuk di SMA yang sama dengannya. Kekagumanku kembali hadir ketika dialah yang menjadi pementor bagi kelompokku saat Masa Orientasi Siswa berlangsung. Selama tiga hari MOS berlangsung, aku mendapatkan tempat duduk yang strategis untuk terus memandanginya diam-diam. Aku berharap kala itu dia tidak mengetahui bahwa aku telah mengaguminya sedari SMP. Tuhan memang selalu memberi kejutan.  Bagaimanapun bentuknya, tetapi aku sangat suka dengan kejadian ini. Lamunanku burai sesaat aku mendengar bel masuk dan artinya akupun harus kembali kedalam kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya.

“Malem, ini Tyas ya?” ada pesan masuk di handphone ku dari seseorang yang tek kukenal nomor ponselnya.
“Iya, ini siapa?” Aku membalas pesannya tak lama orang itu membalas pesanku “Ini Kak Rengga.” Deg! Aku langsung terdiam, tak tau harus seperti apa ketika seorang yang kukagumi mengabarkanku. Kubalas dengan hati-hati, hingga aku menanyakan padanya dari mana dia mendapat nomor ponselku. Dia mengatakan bahwa dia mendapatkan nomorku dari biodata yang aku isi ketika MOS berlangsung. Ada rasa senang, malu, dan juga heran apa maksud dari yang telah dilakukannya padaku.
Hari berjalan seperti biasa. Tidak ini tidak biasa, kali ini aku melalui hari-hariku dengan kehadirannya. Dan, dia tak perlu tahu bahwa aku telah mengaguminya, biar ini mengalir. Aku bahagia!

Kali ini virus Vera sepertinya mulai merasukiku, aku melakukan apa yang Vera lakukan. Aku menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Kak Rengga. Hari-hariku mulai berwarna. Kak Rengga selalu memberi senyuman ketika aku tak sengaja bertemu disekolah. Ah rasanya aku ingin terbang karena melihat senyumnya.

Akhir-akhir ini aku jarang mengobrol dengan Vera, entahlah apa yang terjadi padanya. Aku lebih banyak mengobrol dengan teman yang lainnya.
“Eh, tau gak sih kemarin gue liat Kak Rengga jalan sama Vera.” Kudengar cerita itu ketika aku sedang berjalan keluar. Deg! Hatiku serasa teriris mendengar kalimat itu. Vera sudah kuanggap sahabatku sendiri, tapi mengapa dia tega melakukan hal itu padaku. Aku selalu menceritakan semua tentang aku dan Kak Rengga, tapi mengapa diam-diam dia justru menusukku dari belakang. Ini menyakitkan! Aku tidak pernah menyangka ini semua bisa terjadi. Aku marah. Ada rasa sesak didadaku. Tak terasa ku meneteskan air mata. Aku menangis.

Aku lebih memilih diam daripada aku harus bertengkar hanya karena masalah seperti ini. Aku tak mengajak Vera mengobrol seperti biasanya. Aku terlalu kuat jika aku harus bersikap seperti biasanya. Aku mendiaminya selama beberapa hari. Dan Kak Rengga, aku tak pernah mengerti dengan apa yang dia lakukan. Hari-hari berlalu begitu pelan, aku merasakannya seperti itu, tapi yang kudengar mereka sudah pacaran. Hatiku teriris lagi, namun aku tak bisa melakukan apaun, bahkan Kak Rengga tak pernah tahu bahwa aku telah mengaguminya sejak lama. Biarlah, aku hanya berpikir dan mendoakan semoga dia selalu bahagia.
“Tyas, lagi apa?”
“Lagi tiduran nih Kak, ada apa?”
“Nggak, kakak mau minta tolong, kamu kan temennya Vera. Sebentar lagi kan dia ulang tahun, bantu kakak ya bikin surprise buat dia? Mau kan?” pintanya dengan sangat.
Aku berpikir lagi. Ini sangat menyakitkanku, aku sempat menagis dan menyalahkan keadaan mengapa ini semua terjadi kepadaku sebelum aku mengiyakan untuk membantunya dihari ulang tahun Vera. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan mengesampingkan ras sakit hatiku. Esoknya aku diminta untuk menemaninya membeli kue ulang tahun dan kado untuk Vera. Aku hanya berusaha untuk menelan pahit ini bulat-bulat.
“Yang ini bagus gak?” Kak Rengga menyadarkanku dari lamunanku.
“Ah? Bagus kok Kak Vera pasti suka.” Aku hanya bisa menjawab sebisaku.
“Oke kakak ambil.”

Aku sadar Vera tahu bahwa aku tahu tentang dia dan Kak Rengga. Dia hanya terdiam tak sedikitpun mengatakan sesuatu yang membuatku bisa memaafkannya. Aku sakit hati. Dan aku marah kepadanya. Tak ada canda tawa yang hadir diantara kami seperti biasanya. Aku memilih untuk tidak duduk berdampingan dengannya. Entahlah aku rasa ini terlalu berlebihan. Tidak! Aku sakit hati, aku wajar melakukan hal itu.

“ah, berat sekali rasanya untukku melakukan hal itu.” Ucapku. Hari ini adalah hari ulang tahunnya Vera. Kak Rengga berjanji untuk menjemputku kerumah dan pergi kerumah Vera untuk memberikan surprise.
“Udah depan rumah nih.” Pesan dari Kak Rengga. Aku hanya mengiyakan dan aku bergegas.

Indahnya. Tak kusangka Kak Rengga adalah sosok yang sangat romantis. Dihari ulang tahun Vera ia memberikan kado sebuah boneka Teddy Bear dengan ukuran yang sangat besar. Kue ulang tahun yang membentukkan wajahnya, dan seikat bunga tulip. Aku semakin teriris, melihat kesakithatian ini tepat didepan mataku. Aku mencoba menenangkan diriku, aku memberikan senyum palsuku kepada mereka. Sungguh, sebenarnya aku tak kuat melihat kejadian ini, aku ingin pulang.
“Aku pulang ya. Kasian kalian takut ngerasa keganggu hehe. Selamat ulang tahun sahabat terbaikku Vera. Semoga bahagia ya sayangku.” Ucapku sembari berpamitan pulang. Aku tak ingin melihat lagi, aku cukup kesakitan dengan itu.

Selesai mandi tiba-tiba kudengar handphoneku bordering. Ada pesan masuk. Dari Vera. Apa isinya, aku lekas membuka pesan itu.
“Tyas sayang, maafin aku. Aku gak bisa menghindarinya. Aku menyukainya. Aku dekat dengannya ketika kau sering bercerita tentangnya. Aku juga tak bisa mengatakannya dengan jujur padamu Yas. Aku takut kamu marah, tapi kenyataannya kamu memang marah, dan sepertinya aku tak bisa mengembalikan senyummu. Kamu terlalu marah padaku. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, semoga kau mai memaafkanku. Maafin aku Tyas.”
Kutarik napas panjang dan kubuang pelan-pelan ku beranikan melawan egoisku untuk membalas pesan itu. “Ya, gak apa-apa, toh semua udah terjadi. Keadaan gak sesuai harapan. Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk mengagumi saja. Kalian cocok. Aku senang bila melihat Kak Rengga senang walalupun bukan sama aku. Aku memang marah, aku menangis, aku gak nyangka akmu bisa kayak gitu sama aku. Tapi mau apa lagi, semua udah kejadian. Aku gak bisa apa-apa. Aku Cuma bisa ngedoain semoga kalian bahagia. Itu aja.”

Ya, aku sekarang hanya bisa mencoba untuk merelakan dan mengobati lukaku secara perlahan. Sendirian. Aku hanya berharap semoga Kak Rengga bahagia dengan apa yang dia pilih untuk hidupnya. Aku bahagia bila dia bahagia. Ternyata aku tahu bagaimana rasanya memendam perasaan. Seperti Vera yang menyukai Kak Andri. Aku bisa merasakannya. Diam dalam kekaguman. Menyayangi dia diam-diam. Mendoakannya diam-diam tanpa perlu diketahui. Kurasa aku bisa melakukan itu. Aku harus bisa. 

Selasa, 07 Oktober 2014

Sesekali pikiranku kembali menerawang, memilah-milah apa yang mesti diingat darimu. Ah, kurasa semua tentangmu harus diingat, bahkan yang pahit sekalipun. Tiba-tiba otakku melangkah mundur dengan tergesa-gesa, berdiri dimana pertama kalinya aku memiliki alasan untuk memperjuangkanmu. Entahlah, aku tak pernah tahu akan maksud dari semua ini. Entahlah, aku merasa aku tak benar-benar ingin melupakanmu. Entahlah, aku tak pernah memilih ini sebelumnya. Entahlah, apa yang membuatku ingin melakukan semua ini, untukmu. Walaupun aku tahu, jelas-jelas aku diharuskan untuk melupakanmu, karena sepertinya itu memang keinginanmu. Apalah dayaku, hatiku tak pernah menginginkan hal itu. Maafkan aku, aku belum bisa berhenti atas kamu.

Entahlah, aku tak tahu mengapa Tuhan mengirimkan cerita yang tak pernah kuketahui akhirnya. Tidak, sebenarnya aku sudah mencapai akhir dari rangkaian cerita ini. Seharusnya aku sudah berhenti dan tak lagi memaksa untuk melanjutkan kisah ini. Seharusnya aku sudah berhenti menginginkanmu, mendoakanmu, mengharapkanmu, merindukanmu. Seharusnya itu sudah tak lagi kulakukan.
Tapi mengapa, hati ini tak bisa melakukan itu semua? Rasanya hati ini menolak untuk berhenti. Mengapa kamu berhasil membuatku terjatuh dan terluka tanpa kau bantu berdiri dan membersihkan lukaku seperti dulu saat kau datang dan menghilangkan rasa pedih itu? Mengapa kau tak mampu menjadi penyembuhku lagi saat aku tahu sebab lukaku adalah kamu? Mengapa kau mampu membuatku terjatuh kedalam jurang yang begitu dalam sedang kau tak mampu mengangkatku dan menyelamatkanku?

Kau tahu betapa terkikis hati ini mengetahui yang kau inginkan adalah kepergianku atas kamu? Tahukah betapa sedihnya ketika aku mengetahui yang kau inginkan bukanlah aku? Kau tahu betapa perihnya hatiku ketika kau mengatakan bahwa kau pun sedang bertahan untuk seorang yang bukan aku? Kau tahu bukan sakitnya seperti apa? Aku bagai ditampar dengan ribuan kepal tangan menghamtam pipiku hingga bengkak.


Tapi entahlah, aku memang belum bisa menyerah atas kamu, hanya waktu dan kamu yang bisa menjawab semuanya. Tapi terlebih dari itu, aku masih ingin disini duduk manis ditepi taman yang indah, ditemani sejuknya semilir angin yang menggoyangkan rambutku yang terurai. Menanti kedatanganmu, menjemput pada kebahagiaan atau mengucapkan selamat tinggal.

Selasa, 09 September 2014

Aku Benci Malam

Rasanya aku terlalu takut untuk bisa melewati malam hari. Dibalut dengan dingin yang menggigil menusuk lelahnya raga ini.   Memanggil manggil seakan hanya akulah yang kesepian, terusik oleh luka dan duka. Rasanya setiap malam hanya tersiksa yang aku rasakan. Terpasung dengan rasa yang enggan enyah dari raga ini, sulit menolak dan memaksa untuk menelan dan menikmati seperti apa rasanya. Rindu. Iya setiap hari , setiap malam aku hanya disajikan rindu yang tiada pernah tertuju. Melayang layang seolah mencari tempat dimana dia harus singgah. Rindu itu, tak pernah bisa singgah kepada sang empunya. Lalu, aku hanya bisa menangkapnya kembali dan menaruhnya dengan rapi untuk kucoba kembali melepaskannya dan semoga ia terjatuh padanya  dan menyukainya.

Sabtu, 06 September 2014

Maafkan Aku...

Malam ini, ku mencoba untuk menghadirkan wajahnya dilangit-langit kamar. Matamu berbinar bahagia, bibirnya melengkungkan senyum termanisnya. Kukira Tuhan telah sempurna menciptakanya.

Tuhan, mengapa Kau ciptakan makhluk yang sempurna itu?
Mengapa Kau justru mempertemukanku dengan makhluk itu?
Mengapa Kau justru membuatku untuk mencintainya, Tuhan?
Mengapa Kau membuat mataku nyaman ketika aku melihat raut nya yang manis?

Ada apa dengan raga ini, Tuhan? Ada apa dengan hati ini? Seakan aliran listrik menyengat dengan tegangan terbesarnya ke tubuhku ketika ketemukan sosoknya disekeliling pandanganku dan seketika mataku kaku tak bisa memandang kearah selain dirinya.

Ada apa dengan semua ini, Tuhan?

Ketika ku tahu rasa ini hanya milikku saja, mengapa aku masih tabah menceritaknnya padaMu? Meminta dengan lancang padaMu untuk menjaganya dan menyampaikan rindu yang telah bertumpuk sejak lama.

Tuhan, mengapa aku tak bosan dengan aktivitasku yang melulu seperti ini? Mengapa aku pun memintaMu agar aku bisa terus menceritakan ini dan memintaMu kembali menyampaikan rindu itu serta mendoakannya penuh pilu.

Tuhan, malam sunyi ini, disaksikan bulan yang tengah purnama dengan lancangnya aku kembali meminta padaMu untuk menyampaikan rindu itu. Rindu yang kurajut dengan benang air mata. Rindu yang telah kukumpulkan sejak lama, rindu yang kusimpan dengan rapi, rindu yang ku tata dengan apik dihatiku, rindu yang tersimpan sempurna tiada tercecer sediktpun.

Tuhan, sampaikan rinduku pada makhluk yang mampu membuatku seperti ini. Yang mampu membuatku diam dalam rindu yang menggebu.

Tuhan, maafkan aku karena aku lancang menjadikanMu sebagai perantara rinduku padanya.


Dan untukmu Tuan, maafkan aku yang masih sibuk merangkai rindu untukmu. Maafkan aku…

Sabtu, 09 Agustus 2014

Maaf, Jika Aku telah Lancang..

Gak tau deh yah haha. Kadang cinta bisa bikin orang sampe segininya. Dan yang paling aneh, ini baru gue rasain sekarang. Entahlah, kenapa bisa segininya gue berjuang untuk seseorang, dan gue tahu rasa ini mustahil untuk berbalas, dan yang paling gue salut adalah gue masih berusaha buat perjuangin kemustahilan itu. Walaupun emang ga munafik gue juga menginginkan balasan atas perasaan itu. Entahlah gue juga gak tahu kenapa gue bisa segininya sama orang, gue juga jadi bingung sendiri. Asli!
Kadang kalo dipikir-pikir aneh juga dan sedikit agak lebay buat itu, ya tapi mau gimana lagi, mungkin ini jalannya, mungkin gue lagi diuji sama Tuhan, entahlah dalam hal apa. Tapi yang jelas, gue ngelakuin ini semua tulus, gak ada kepentingan untuk apapun. Ini mengalir gitu aja. Perasaan ingin berjuang untuknya datang gitu aja. Dan gue mau melakukan itu.
Mungkin banyak orang yang beranggapan kalo tindakan gue konyol banget. Aduh deeehh, gue juga gatau alesan nya kenapa. Tapi balik lagi, ini udah jadi keputusan gue dan gak ada yang bisa larang itu. Itu wajar-wajar aja kan?
Entalah perasaan gue itu perasaan yang kayak gimana, gabisa jelasin. Tapi yang jelas ga tau kenapa setiap hari gue ikhlas mendoakan dia, dan terkadang air mata itu jatuh dan terkadang juga air mata itu berubah jadi tangisan yang justru bikin gue semakin takut untuk gak bisa lagi mendoakan dia.
Dan kamu, telah selalu kujadikan sebuah tulisan. Tulisan tentang rindu yang menggebu, tentang rindu yang ingin diketahui, tentang rindu yang merindu untuk dirindukan, tentang rindu seorang gadis lusuh dalam bisu. Yang sedang menunggu keajaiban yang mustahil untuk menghampiri..

Maaf jika aku telah lancang…

Kamis, 07 Agustus 2014

Beberapa hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri

Ada yang diam-diam ingin disapa olehmu. Percayalah, ada yang mengharapkan pertemuan kedua, setelah matamu mendarat di matanya, tanpa aba-aba. Ada yang setiap hari terbangun buru-buru, demi sebuah frasa  ‘Selamat pagi’ dari bibirmu. Ada yang tak pernah berhenti mencatat. Sebab, setiap kalimat adalah peta. Ia tak mau tersesat.
Ada mata yang berbinar sempurna dalam tunduk tersipu, tiap kau sebut sebuah nama, miliknya. Ada yang mengembangkan sesimpul lengkung di bibirnya, dibalik punggungmu, malu-malu. Ada yang memilih terduduk saat jarakmu berdiri dengannya hanya beberapa kepal. Lututnya lemas., tiba-tiba. Ada yang tak pernah melepas telinganya dari pintu. Menunggu sebuah ketukan darimu.
Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau tertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.

Ada yang diam-diam mendoakanmu,
dalam-dalam.
Percayalah.


(Andi Gunawan dalam buku #Hap)

Rabu, 06 Agustus 2014

:')

Hemh, rasanya lega sekarang. Kenapa? Soalnya udah bisa ngasih tau semua apa yang dipendem selama ini. Kelihatan aneh dan bego mungkin, ya tapi mau gimana lagi? Semua orang punya hak dalam bicara bukan? Gengsi? Bukan tipe gue. Kalo emang kita ngerasa begitu, ya ngapain kita diem aja. Toh lebih baik diungkapkan daripada dipendem terus-terusan, biar kalo sakit ya sakitnya sekalian. Kalo bahagia, ya bahagia juga sekalian.

Pada intinya, mempertahankan perasaan untuk seseorang itu sah kan? Memperjuangkan perasaan untuk seseorang itu juga boleh kan? Ya, walaupun kita gak pernah tau itu akan berbalas atau engga, tapi seenggaknya itu adalah suatu keputusan yang tulus. Berjuang hingga merasa lelah, dan ketika lelah justru kita bakal balik lagi semangat untuk perjuangin itu, ya walaupun itu gak bisa berbalas sekalipun, misalnya.

Walaupun ada perasaan buat memiliki, ya pasti ada tapi ya kita serahin aja sama Allah, kalo emang jalannya ya pasti dimudahkan kalo bukan ya mau gimana lagi kita gak bisa buat apa-apa.

Mungkin sekarang aku sedang nyaman dengan segala bentuk perjuangan ini. Bertahan dalam diam. Dalam diam yang penuh dengan rindu yang setiap harinya bertambah. Mengucap dengan terbata lengkap namamu kepada Tuhan untuk menjaganya. Kepada kamu, tenanglah.. jalani hidupmu sebagaimana mestinya. Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Biar ini menjadi sebuah cerita, sebuah cerita yang sebenarnya mengharap balasan. Biarlah .. aku tak pernah memaksamu untuk itu. Biarlah mengalir apa adanya..
Bahwa ada seorang yang mencintaimu dengan dalam.

Dalam diam. 


Selasa, 29 Juli 2014

Kukenang Namamu di Surga

Aku terbangun dari tidurku yang lumayan lelap, karena semalam aku memang habis lembur bekerja. Kucoba untuk mengecek ponselku, terdapat pemberitahuan satu pesan dan satu pamggilan yang tak diangkat olehku, sebegitu lelapkah aku tertidur hingga suara ponselku tak terdengar. Kulihat nama Gilang dalam pesan itu isinya “ Selamat Pagi Sayang, udah bangun belum? Aku kangen, kamu kemana aja seharian kemarin gada kabar.” Langsung kubalas pesan itu yang mengatakan bahwa aku kelelahan karena habis lembur dan aku baru saja bangun.

***

Hari ini hari libur, waktuku untuk bersantai. Aku tak ingin waktu liburku yang sangat berharga ini diganggu oleh ribuan pekerjaan yang terus mencariku untuk segera diselesaikan. Aku berencana untuk pergi rekreasi bersama Gilang. Dia adalah kekasihku, kekasih yang sangat aku cintai. Dan aku tahu, semoga itu benar bahwa dia juga sangat mencitaiku. Hanya itu.

“Sayang, kita ketemu di taman biasa ya.”
“Iya, sampai ketemu disana ya.”
“Iya, love you.”
“Love you too.”

Aku bergegas untuk pergi menemuinya, karena dia memang orang yang tepat waktu. Ia sering memarahiku karena masalah waktu. Ia mengatakan bahwa segala sesuatunya harus tepat waktu. Aku hanya bisa mengangguk dan menunduk seperti gadis kecil yang baru saja jatuh dari sepedanya dan sedang dimarahi oleh orang tuanya. Namun aku tahu itu adalah bukti dari perhatiannya, agar aku tak selalu mengecewakan orang lain  dengan keterlambatanku.

Sebenarnya Gilang adalah sosok yang aku impikan sejak pertama aku melihatnya. Senyum yang selalu dilontarkannya mampu membuatku tidak bisa tidur, sebegitukah yang namanya jatuh cinta, aku tidak pernah bisa memahami mengapa orang yang sedang dimabuk asmara bisa melakukan hal yang semestinya tak harus dilakukan, entahlah kuyakin bukan hanya aku yang melakukan hal konyol seperti itu.
Aku celingak-celinguk mencari keberadaannya ditaman yang cukup luas itu, ah akhirnya kudapatkan batang hidungnya.

“Maaf aku telat hehe.”
“Udah biasa kamu telat, yaudah ayo pergi.”

Seharian ini aku menghabiskan waktu bersamanya, pergi ketaman bermain, kebun binatang dan berakhir disebuah restoran sunda yang terletak tak jauh dari tempat kerjaku. Tempat itu sudah menjadi langganan kami. Kami langsung mencari tempat lesehan yang kosong dan memesan makanan.
Terlihat wajah bahagianya karena kami bisa bertemu setelah kami disibukkan oleh pekerjaan kami masing-masing. Maka dari itu hari libur adalah hari yang kurasa sangat pas untuk kami sama-sama menumpahkan semua rasa rindu yang tertahan.
Aku dikagetkan dengan makananku yang sudah datang.

“Cepet dimakan, nanti sakit siapa yang repot.” Kata Gilang. Aku langsung memakannya dengan perlahan.
Dalam keheningan karena aku sedang menikmati setiap suapan makanan yang kumakan tiba-tiba aku dikagetkan dengan sesuatu yang mampu membuatku tersedak.
“Aku mau lamar kamu.”
“Haah? Tidak salah? Kok gada basa-basinya hahaha.” Sifatku yang periang memang membuatku easy going.
“Aku serius Diandra Vellita Syah! Harus berapa kali aku mengatakan ini?” begitu lantangnya dia menyebut namaku, dan meminta seperti itu terus.

Perkataanya membuatku dalam sekejap terdiam. Sebenarnya aku bisa saja mengatakan aku mau menikah dengan dia hanya saja mengapa sebagian dari pikiranku mengatakan bahwa aku belum siap menikah padahal bila dilihat dari ekonomi kami sudah sama-sama mapan untuk bisa menghidupi keluarga, tapi entahlah mengapa aku belum saja siap dengan itu, dan ini adalah ajakannya yang keempat.
“Sayang, Kamu mau kan nikah sama aku? Tanya Gilang penuh harap kepadaku. Dilihat dari tatapan matanya yang begitu tulus aku bisa menyimpulkan bahwa dia memang benar-benar mencintaiku dan menginginkan aku seutuhnya untuk menghabiskan hidupnya bersamaku.
Aku hanya bisa terdiam, tak tahu harus bagaimana.
“Aku…Aku belum si..”
“Belum siap? Selalu itu yang kamu bilang, kalau kamu merasa belum siap lalu mau kapan kamu siap? Kamu belum percaya sama aku?”
“Aku percaya sama kamu Gilang Fudlyansyah, emm tapi…”
“Tapi apa?”
“Aku belum bisa menjawab itu, aku belum siap dengan sebuah pernikahan.”
“Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu menjawab bahwa kamu bersedia menikah denganku.”

***

Aku bergulat dengan pikiranku sendiri, menangis sejadi-jadinya, memikirkan semua tentang Gilang yang sangat sempurna dimataku. Aku ingin menikah dengannya, aku ingin menjadi ibu untuk anakku nantinya. Setiap pagi sibuk membantu anakku untuk bersiap-siap pergi kesekolah, sibuk membuat sarapan untuk kami, dan pergi bersama diwaktu senggang. Indah rasanya. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu, aku belum siap dengan semuanya, aku tidak ingin mengecewakan Gilang. Aku terlalu takut untuk tidak bisa membuatnya bahagia dengan pernikahan ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari Bandung, meninggalkan semuanya tentang kota yang membesarkanku, meninggalkan pekerjaanku yang tertunda. Biarlah, aku hanya ingin menenangkan pikiranku yang kalut memikirkan ini-itu. Aku meninggalkan Gilang tanpa memberi kabar apapun. Aku yakin dia akan mencariku tanpa henti. Biarlah. Aku ingin sembunyi dari hiruk pikuk. Dari Gilang juga tentunya.

***

Tok tok tok
“Permisi.”
“iya tunggu sebentar.”
“maaf gue mau Tanya ini bener rumahnya Gilang Fudlyansyah?”
“Iya. Gue Gilang, ada apa? Lo siapa?”
“Maaf sebelumnya, perkenalkan nama gue Nindy, gue temennya Diandra…”
“Jadi kamu tau Diandra dimana? Tolong kasih tau gue dimana Diandra, please.” Pinta Gilang dengan sangat.
“Iya. Gue bakal ceritain nanti tapi lo yang tenang dulu.”
“Apa maksud perkataan lo? Silahkan masuk dan mending cepet ceritain dimana dia, gue kangen banget sama dia. Please.”
“iya. Tapi Diandra cuma nitipin ini sama gue. Silakan dibaca.”

Sayangku, seseorang yang mampu membuatku merasa sempurna. Unutukmu seorang yang mampu membuatku berarti, tenanglah aku baik-baik saja disini. Maafkan aku karena telah pergi diam-diam, maafkan aku karena aku telah membuatmu khawatir akan keadaanku. Maafkan aku juga yang tak segera menjawab pertanyaanmu saat kita sedang makan direstoran waktu itu. Jika aku boleh mengatakan sesuatu, sebenarnya aku sangat ingin menjawab iya untuk pertanyaan itu, aku ingin menjadi bagian dari hidupmu seutuhnya, kamu boleh menjadikanku belahan jiwamu dan mencintaiku dengan utuh. Rasanya indah bila membayangkan kelak kita akan sibuk dengan mengurus sosok yang mampu membuat kita kesal, jengkel, senang, bahagia dan tentunya kita mencintainya dengan sepenuh hati, Sayang.
Berulang kali aku memantapkan hatiku untuk bisa membuat bibirku mengucapkan dengan lantang bahwa aku mau menjadi bagian dari hidupmu selamanya, bersedia mencintaimu dengan tulus, berusaha untuk selalu membuatmu bahagia selamanya, tapi entah mengapa aku tidak bisa mengatakan kalimat itu dengan lantang. Rasanya ada sesuatu yang membuatku terhenti dan tak bisa berkata-kata.
Aku terkena Leukimia, aku tak tahu kenapa aku bisa mengidap penyakit yang mematikan ini, maaf jika aku tak mengatakan hal ini kepadanmu. Sebenarnya ini yang membuatku takut akan pernikahan. Aku takut untuk tidak bisa membahagiakanmu. Aku terlalu takut untuk nantinya membuatmu sedih. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku jika aku tiba-tiba pergi meninggalkanmu. Aku yakin kamu pasti menemukan seorang yang mampu membuatmu lebih bahagia dibanding aku. Aku mencintaimu Gilang, aku cinta dengan sepenuh hatiku. Akan aku ceritakan pada bidadari disurga sana bahwa aku mempunyai cinta yang kubawa hingga aku berada bersama mereka dan itu kamu Gilang.

“Diandra pergi setelah lo melamar dia waktu itu, dia emang cinta banget sama lo. Tapi, dia gak mau ngecewain lo dengan keadaan dia yang lagi sakit keras. Dia gak cerita sama lo tentang penyakitnya karena dia juga gak mau bikin lo sedih. Dia bilang sama gue, bahwa dia mau jadi pendamping lo tapi balik lagi, kayaknya itu gak mungkin. Dia juga pergi diam-diam dari lo cuma dengan maksud ingin menyembuhkan penyakitnya yang makin lama makin parah. Dia Cuma lagi berusaha melawan penyakitnya, dia harus bulak-balik rumah sakit buat kemoterapi. Tapi hasilnya nihil. Keadaan dia makin lama makin buruk. Penyakit it uterus menggerogoti tubuh mungil Diandra. Selama gue menemani dia berobat, dia sangat semangat untuk hidup. Dia selalu cerita, bahwa dia akan menjawab pertanyaan yang belum dia jawab buat lo. Tapi emang semua kenyataan gak selalu bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Diandra pergi begitu cepet, dia pergi ketika penyakitnya kambuh dan saat itu gue lagi manggil dokter buat meriksa dia. Keadaan gak sesuai dengan harapan. Tapi sebelum dia pergi, dia sempet kasih surat ini buat lo. Dia kasih juga alamat lo dimana biar gue bisa dengan mudah kasih surat itu. Dia minta sama gue buat kasih surat itu ketika gue udah pergi buat selama-lamanya. Dan mungkin ini adalah waktu yang tepat buat gue kasih surat itu, Lamg. Maafin gue, gue gak bisa berbuat apa-apa buat lo, karena ini permintaan terakhir Diandra.” Ucap Nindy dengan penuh air mata.
“Iya, gue ngerti itu semua. Semua udah berlalu. Udah gak ada lagi yang bisa gue tunggu didunia ini. Diandra udah pergi ninggalin gue. Lalu apa yang harus gue lakukan sekarang?”
“Lo harus tetap jalani hidup lo meski tanpa dia. Itu yang diucapin Diandra. Dia yakin bahwa ada prang yang lebih tepat untuk bisa bersama lo.”
“Terimakasih karena lo udah kasih tau semuanya.”

***


Kini aku hanya bisa merenung. Menyadari bahwa seseorang yang aku cinta dengan sepenuh hati telah pergi meninggalkanku. Ya, aku sadar sekarang bahwa sesuatu yang kita harapkan dan kita inginkan tak selalu sesuai dengan takdir Tuhan. Usahamu untuk memperjuangkan hidupmu tak bisa melawan takdir yang telah digariskan Tuhan. Mungkin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah untukku dan juga kamu, Diandra. Tenanglah kamu disana, berbahagialah kamu dengan bidadari-bidadari surga disana. Meneguk air dari sungai yang jernih, biar aku disini sendiri terpasung dengan kenyataan yang menyedihkan itu.  


Aku hanya Butuh Waktu

Tenanglah. Sabar. Aku hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk benar-benar menyerah dalam perjuangkan kamu. Sungguh ini bukan hal yang mudah bagiku untuk menyerah atas apa yang sedang aku perjuangkan, meski harusnya kamu tahu bahwa rasaku nyata untukmu dan aku berusaha untuk menambah kadar itu disetiap harinya. Tapi, aku sepertinya telah salah. Kamu tidak menginginkannya.

Rasanya sangat sulit untukku mempertahankan perasaan yang tiada pembalasan. Bukannya aku egois, tapi bukankah perasaan yang besar akan terkikis sedikit demi sedikit bila terabaikan? Bukankah perasaan yang besar akan hilang dengan perlahan bila sang empunya tiada mengusik sediktpun? Dan bukankah itulah yang kamu inginkan? Menghilang dari hadapan dan tiada lagi mengusikmu dengan rasa yang kamu anggap bodoh ini? Berusaha sekuatmu untuk menenggelamkan semua rasaku?

Jangan salahkan aku, jangan salahkan perasaan aku yang ada untukmu. Jangan. Ini hanya sebuah rasa yang wajar adanya bagi mereka yang mengerti dan merasakan. Bisa merasakan bagaimana jatuh cinta. Bisa merasakan bagaimana rasanya berada diatas awan karena kegirangan. Dan bisa merasakan bagaimana rasanya terabaikan. Jatuh. Terpuruk. Tenggelam. Mati atas perasaan itu sendiri.
Aku tahu, kamu amat tidak menginginkan ini. Tenanglah. Perlahan semua keinginanmu akan terwujud. Aku hanya butuh waktu bia kamu mau. Dan ingatlah, bukan berarti aku benar-benar menyerah atas kamu. 



Jumat, 18 Juli 2014

Kukemas Rindu Untukmu

Hai. Apa kabarmu? Semoga kamu tak bosan dengan sapaanku yang melulu seperti ini. Selalu menanyakan keadaanmu yang memang tak pernah kuketahui, apakah kamu sehat disana, kamu sudah makan atau belum, bagaimana dengan aktivitasmu sehari-hari, walaupun itu hanya kukatakan dalam hatiku, kuharap semuanya baik-baik saja.

Entahlah, rasanya setiap tuts yang kuketik, semua kata yang dihasilkan menjadi sebuah cerita bagaimana aku mengemas rinduku untuk kamu. Mungkin jika tuts ini dapat berbicara, ia bisa saja mengatakan bahwa “aku lelah harus mengetik semua tentang rasa rindumu yang tak ada hentinya, dan aku juga tahu pastilah rindu itu tak pernah terbalas, bahkan tersampaikan saja tidak”.

Ya, mungkin seperti itulah akhir dari setiap rindu yang ku punya untukmu, selalu tak pernah terbalaskan, bahkan untuk tersampaikan saja tidak. Jadi, bagaimana kamu bisa mengetahuinya kalau aku memang hanya bisa menyimpannya dalam hati dan rasanya tertahan untuk tidak mangcapkannya. Biarlah..


Aku hanya berharap dalam diammu kamu mengetahui semuanya, mengetahui semuanya bahwa aku punya ribuan rindu yang tak tersampaikan untuk kamu, dan aku berharap kamupun telah mengemas ribuan rindu untukku yang tak bisa terucapkan. Aku berharap kita diam dalam rindu yang menggebu, yang sewaktu-waktu bisa saja kita meledakkan rindu itu menjadi cinta yang tulus adanya. Semoga, dan kamu harusnya tahu bahwa itu doa terbesar yang ku punya untukmu.

Rabu, 16 Juli 2014

....

Setiap harinya aku harus terbiasa dengan menahan sesak yang tertanam dihatiku. Entahlah, awalnya aku tidak ingin terlalu mengacuhkannya, hingga aku mencari akar dari semua rasa sesak dan cemasku. Ya! Aku telah menemukannya. Ini bukan hal yang biasa. Ini sebuah rindu, rindu yang menunggu untuk diketahui dan terbalaskan. Ini sebuah rindu tanpa pembalasan. Sakit bukan?

Aku sadar,ternyata selama ini aku sedang memendam sebuah rindu. Tidak! Ini bukan sebuah, melainkan ribuan. Ribuan rindu yang tak pernah terbalaskan, walau hanya satu diantaranya.
Rindu yang kian lama kian bertumpuk, bertumpuk untuk meminta balasan yang serupa. Namun kutahu, itu takan pernah mungkin terjadi. Belum pernah sebelumnya aku merindu sekalut ini. Aku hanya bisa menahan, menahan hingga mungkin rindu-rindu itu sudah tak mungkin bisa tertampung lagi dan membuat hati itu sobek. 

Apa kau tahu rasanya merindu hingga aku mau bersimpuh diatas sajadahku dan mengadu pada Tuhan atas rinduku? Apa kau tahu rasanya merindu seorang yang tak peduli bahkan tak mengetahuinya? Sakit. Perih!
Bukankah cinta yang tulus adalah cinta yang tak pernah mengharapkan sebuah pembalasan yang serupa? Tapi, apakah manusia mau untuk menerimanya? Kuyakin tidak ada!

Karena setidaknya cinta yang sangat tulus pun ingin mendapatkan balasan yang sama walau hanya secuil. Entahlah, kapan aku bisa berhenti mengumpulkan rindu untukmu hingga kamu tahu bahwa ribuan rindu ini tercipta, dan ada hanya untukmu. Seorang.

Kadang terlintas dalam pikirku untuk berhenti perjuangkan kamu, karena aku sangat tahu bahwa kamu tak pernah mau tahu itu. Tapi entah mengapa, aku terus dihantui oleh rasa yang mengatakan bahwa bila aku berhenti, hanya seginikah perjuanganku?

Karena itulah, setiap kali aku ingin menyerah, justru aku ingin terus perjuangkan kamu.


Sebuah Puisi tentang Keegoisan

Kamu ingat saat kau tahu aku punya rasa untukmu?
Kamu ingat saat pertama kali aku mengutarakan rasa bahagiaku karena aku diberikan waktu untuk bersamamu?
Kamu pun tahu bukan saat tak bisa banyak berkata saat aku ada didepanmu, dan memandangmu dengan malu?
Bukankah kau tahu bahwa aku sangat bahagia saat kamu ada bersamaku?
Tidakkah kamu memikirakan bahwa aku sangat terluka karena merindukanmu?
Tidakkah kamu sedikit saja untuk bisa merasakan bahwa aku telah jatuh sepenuhnya untukmu? Seorang?
Kau tahu?
Aku disini hanya menginginkan bahwa kamu juga menginginkan aku
Aku hanya ingin kamu mau aku seperti aku yang mau kamu
Aku hanya ingin kamu pun berdoa dalam sujudmu layaknya aku yang selalu bedoa diatas sajadahku
Aku hanya ingin kamu mengharapkanku sebagaimana aku yang juga mengharap kamu dalam cemasku

Dan aku juga hanya ingin kamu merindukanku jauh lebih dalam dan jauh lebih besar dari aku yang selalu merindumu dalam diamku.

Kamis, 26 Juni 2014

250614

Aku sempat melihat ragamu tadi. Kamu terdiam, mungkin kamu tidak menyadari keberadaanku. Ah, rasanya menyadaripun, itu biasa saja. Datar. Melihat kamu sepertinya baik-baik saja. Syukurlah, Tuhan sepertinya telah menjabah sebagian dari banyaknya harapku.  Tiada yang berubah dari penampilanmu. Selalu terlihat rapi dan tampan. Rasanya, ketika mata ini tak sengaja membidikkan pandangannya kearah dimana kamu berdiam, seakan mata ini langsung tak ingin berpaling dari pandangan itu. Pandangan terhadap kamu. Ya, dirimu, Tuan.

Rasanya, ketika aku menemukan bahwa kamu hanya berada dijarak yang dekat denganku, seketika otakku langsung memutarkan kembali memori itu. Kenangan akan kamu. Indah.
Kurasa, kenangan itu memang hanya tinggal kenangan. Kedua telapak tanganku yang selalu menengadah meminta pada-Nya untuk kembali mengulang masa itu, nampaknya hanyalah angan-angan semata.

Tenanglah, Tuan. Aku tidak akan pernah melupakan hal yang kuanggap indah itu. Mampu melihat senyummu, dan sempat merasakan kepedulianmu akan aku. Terima kasih untuk itu semua, terima kasih untuk pernah sempat ada untukku.

Aku akan terus berdoa untuk kebaikanmu dan mencoba meminta dengan terbata kepada Tuhan. Sudikah Ia untuk mengulang itu semua dengan kekal.




250614

Jumat, 20 Juni 2014

Kiranya...

Entahlah, rupanya aku belum cukup bisa untuk melupakanmu dengan segera sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Kiranya, aku masih ingin diberikan tambahan waktu untukku memusnahkannya. Memusnahkan segalanya tentangmu.

Kiranya, aku pernah berpikir dengan dangkal, hebatnya dirimu yang mampu memasukkanku kedalam lubang yang bernama cinta, dan kamu tutup dengan mudahnya lubang itu dengan batu yang besar hingga membuatku tak bisa keluar. Terperangkap dalam lubang cinta yang tak tahu bagaimana cara untuk lepas dari sana. Kamu membuatku terjebak didalamnya, karena semakin keras usahaku untuk membuka lubang itu, semakin kuat usahaku untuk mendorong lubang itu, entahlah, hanya sebuah usaha sia-sia yang kudapat. Yang ada aku semakin terluka karena itu.

Tertawalah sepuasmu, tertawalah dengan kencangnya karena kamu telah berhasil membuatku terpenjara akan permainan yang kuanggap indah itu. Tapi, entahlah aku hanya bisa tersenyum dan menelan segala sesak melihat kenyataan itu.

Katamu, kamu telah menutup rapat hatimu untuk siapapun yang tak sanggup untuk bisa menjadi sepertinya.

Kiranya,


Karenamu, akupun tak ingin membuka hati untuk siapapun yang tak bisa menjadi dirimu.


Minggu, 08 Juni 2014

Aku masih Sibuk Mengemas Rindu Untukmu

Hai. Apa kabarmu? Semoga kamu tak bosan dengan sapaanku yang melulu seperti ini. Selalu menanyakan keadaanmu yang memang tak pernah kuketahui, apakah kamu sehat disana, kamu sudah makan atau belum, bagaimana dengan aktivitasmu sehari-hari, walaupun itu hanya kukatakan dalam hatiku, kuharap semuanya baik-baik saja.

Entahlah, rasanya setiap tuts yang kuketik, semua kata yang dihasilkan menjadi sebuah cerita bagaimana aku mengemas rinduku untuk kamu. Mungkin jika tuts ini dapat berbicara, ia bisa saja mengatakan bahwa “aku lelah harus mengetik semua tentang rasa rindumu yang tak ada hentinya, dan aku juga tahu pastilah rindu itu tak pernah terbalas, bahkan tersampaikan saja tidak”.

Ya, mungkin seperti itulah akhir dari setiap rindu yang ku punya untukmu, selalu tak pernah terbalaskan, bahkan untuk tersampaikan saja tidak. Jadi, bagaimana kamu bisa mengetahuinya kalau aku memang hanya bisa menyimpannya dalam hati dan rasanya tertahan untuk tidak mangcapkannya. Biarlah..

Aku hanya berharap dalam diammu kamu mengetahui semuanya, mengetahui semuanya bahwa aku punya ribuan rindu yang tak tersampaikan untuk kamu, dan aku berharap kamupun telah mengemas ribuan rindu untukku yang tak bisa terucapkan. Aku berharap kita diam dalam rindu yang menggebu, yang sewaktu-waktu bisa saja kita meledakkan rindu itu menjadi cinta yang tulus adanya. Semoga, dan kamu harusnya tahu bahwa itu doa terbesar yang ku punya untukmu.


Jumat, 09 Mei 2014

Kepada Kamu...



Kepada kamu yang menghilang, kepada kamu yang tak tahu dimana sekarang. Apa kamu mendengar jeritan tangis yang amat hebat, jeritan tangis yang diliputi rasa sesak karena menahan rindu yang amat dalam. Rindu yang diketahui tak akan pernah mendapat balasan.  Hanya mampu tertahan dalam lubuk hati yang terdalam, mencoba mengatakan kepada bibir ini untuk tidak mengutarakannya. “Tahanlah, cobalah untuk menahannya walaupun hati ini sudah dipenuhi oleh rasa sesak itu. Aku tak apa. Biarlah, biar saja dia tidak tahu akan itu”. Katanya.

Kepada kamu yang dipenuhi oleh rindu dari sosok yang sama.  Sosok yang tidak akan mungkin ingin kamu gapai, sosok yang seharusnya lenyap dari pikiranmu, tetapi masih sibuk untuk mengumpulkan ribuan rindu yang mungkin bisa saja meledak jika memang dia sudah merasakan sesak dan tidak lagi kuat untuk menahannya. Mungkin sewaktu-waktu kamu akan ditampar sebegitu kerasnya oleh rindu-rindu yang telah dikumpulkannya sejak lama.

Kepada kamu yang pergi diam-diam, entahlah, aku tidak tahu akan seberapa banyak rindu yang aku kumpulkan, rindu yang sangat hebat yang hanya bisa mampu kutahan sendirian, merindukan segalanya tentang kamu.

Kepada kamu yang selalu aku rindukan tanpa henti, aku berharap dalam diammu, aku berharap dalam hilangmu, aku berharap dalam ketidakpedulianmu, aku berharap dalam sikap dinginmu, kamu juga merindukanku dalam diam, bahkan merindukanku lebih dalam.