Kulihat
jam dinding diruang tamu dirumahku, pukul 06.30 terlihat jelas dimataku. Ah
sialan aku terlambat lagi kesekolah. Aku buru-buru untuk memasukkan buku
pelajaranku dan memakai sepatuku. Ini hari senin. Upacara. Aku tak boleh
terlambat kecuali aku siap untuk distrap berdiri didepan murid lain yang sedang
upacara.
“Mah,
Tyas pergi dulu udah kesiangan banget nih, Assalamualaikum.” Ucapku buru-buru.
“Iya
Waalaikumsalam, hati-hati ya Yas.”
Tak
kuhiraukan perhatian ibuku, aku langsung mengendarai motorku yang sudah
kupanaskan sedari pagi.
“Ayo
cepet cepet udah mau dimulai upacaranya!” ucap Pak Darmanto. Dia memang guru
yang tegas, bukan tegas tapi galak.
Aku
cepat cepat memilih tempat dimana teman-teman kelasku berada. Yap akhirnya aku
berdiri sejajar dengan teman-temanku. Huufft.
“Tuh
Yas liat disamping gue siapa? Hehe.” Ucap Vera kegirangan. Aku baru sadar
ternyata disebelaku adalah barisan kakak kelas. Kulihat disebelah Vera adalah
Kak Andri. Ya, Kak Andri adalah sosok yang banyak diagungkan oleh
teman-temanku. Aksinya yang sangat keren ketika mendribel bola basket dan
menuntunnya memasukkan ke ring dengan loncatannya yang indah memang tak dapat
diragukan lagi. Sangat keren. Wajah yang tampan juga menjadi nilai tambah
baginya dan semakin banyak yang mengaguminya. Termasuk Vera.
“Kak
Andri? Yelaah lebay lo ah.”
“Lo
jangan keras-keras napa ngomongnya, tar kedengeran kan gue malu kampret.”
“Haha
nggak bakal lah lagian ini berisik banget.”
Upacara
berlangsung khidmat setelah kepala sekolah memarahi semua murid karena tidak
mau diam. Kepala sekolah ku memang terkenal seram, dan tentunya ditakuti oleh
semua murid termasuk aku. Untuk ukuran siswa baru aku sangat takut kepada
beliau.
Upacara
berakhir, seperti biasa siswa tidak berlarian menuju kelas, tetapi kantin. Ya,
kantin penuh setelah jam upacara berakhir. Banyak murid yang tak bisa mengantri
untuk membeli makanan hingga banyak aksi dorong-dorongan yang terjadi juga
banyak teriakan yang mengatakan bersabarlah. Yap, aku berhasil mendapatkan sekotak
nasi goreng dan juga air mineral. Nasi goreng itu akan cepat habis bila memang
kita banyak mengalah dan tidak berusaha untuk berebut. Leganya, setelah itu aku
dan Vera kembali menuju kelas.
“Aaaah
Tyas, kamu liat gak tadi juga waktu kita beli sarapan, ada kak Andri loh?” ucap
Vera genit. Dia memang sangat mengagumi sosok Kak Andri. Entahlah aku tak tahu
apa sebabnya. Kupikir dia terlalu berlebihan dalam mengagumi seseorang.
“
Iyakah? Ko aku gak liat ya?”
“Iya
gak bakalan liat lah, kamu kan sibuk berebut ngambil nasi goreng, bzzzzz.”
“Ahaha
iya benar juga, habisnya aku laper banget tadikan gak sempet sarapan dirumah.”
“Ya
ampun lagi rebutan makanan pun Kak Andri tetep kece maksimal. Huhuhu andai aku
bisa jadi pacarnya.” Kata Vera mengandai-andai.
“Helloooooo,
bangun! Matahari udah tinggi juga hahaha mimpi mulu lo!” kataku mengejek Vera.
Pelajaran
dimulai, kali ini mata pelajaran Biologi, dengan gurunya Bu Tantriawati yang
mampu membuat murid-murid larut dalam mata pelajarannya. Pembawaannya yang asik
membuatku juga mudah mencerna pelajaran ribet itu. Ah sialnya, selalu banyak
tugas yang harus diselesaikan dengan tenggang waktu beberapa hari saja, bila
tidak mengumpulkan tepat dengan waktu yang telah ditentukan dia akan mengamuk
habis-habisan. Tetapi itu justru yang membuat murid jadi rajin.
Seperti
biasa hari-hariku dipenuhi dengan tugas yang menumpuk untuk minta diselesaikan,
tak ada yang istimewa dengan hari-hariku, hanya saja aku selalu diganggu dengan
cerita yang sama. Vera dan Kak Andri. Ah, apakah seperti itu rasanya mengagumi
seseorang? Sampai hari-harinya tak pernah bisa lepas dari cerita tentangnya.
Sebernarnya aku lelah mendengar semua cerita tentang Kak Andri. Karena setahuku
dia sudah memiliki kekasih, bahkan itu sudah bukan rahasia soerang saja, tetapi
satu sekolah bahkan guru-guru pun tahu. Tentunya wajar bagi seorang yang sangat
terkenal disekolahnya karena prestasinya dibidang olahraga. Tetapi, apakah
seseorang yang hanya bisa mengagumi bahkan tak memikirkan bahwa yang dikagumi
sudah memiliki seorang yang telah menjaga hatinya dengan utuh? Apakah dia tak
merasakan sakit hati? Ah, entahlah aku tidak mengerti akan itu, tapi yang jelas
Vera tetap mengagumi sosok Kak Andri. Tak peduli keadannya seperti apa.
Mungkin.
Bel
istirahat berbunyi, aku memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan. Aku memilah-milah
buku yang sekiranya menarik. Ah, akhirnya aku mendapatkan novel untuk kubaca
selama jam istirahat berlangsung. Aku segera mencari tempat duduk senyaman
mungkin agar aku konsentrasi dengan apa yang kubaca.
“Dor!!!
Tumben ke perpus? Biasanya juga ngegosip hahaha”. Seseorang membuyarkan
konsentrasiku. Kulihat siapa yang mengagetkanku. Ah, dia.
“Hehe,
iya nih Ka, abis bete nyari suasana tenang aja.” Ucapku pada Kak Rengga.
“Oke,
semangat ya hehe.” Ucapnya sambil meninggalkanku mencari buku yang ingin dia
temukan. Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan apa yang sedang aku baca.
Flashback!
Kak
Rengga adalah Kakak kelasku sedari SMP. Jujur saja aku cukup kagum dengannya.
Aku mulai mengaguminya ketika Masa Orientasi Siswa di SMP, kala itu semua murud
baru diharuskan mendapatkan tanda tangan ketua osis. Ah, aku gagal
mendapatkannya. Awalnya aku tak pernah tahu seperti apa wajah ketua osisku itu,
sampai akhirnya aku diberitahu oleh temanku bahwa ketua osis kami adalah dia.
Siswa kelas IX A, cukup tampan. Wajahnya yang manis dan tubuhnya yang tinggi
mampu membuatku mengaguminya. Hanya kagum saja, tidak seperti Vera temanku yang
tergila-gila oleh Kak Andri.
Tak
disangka aku pun masuk di SMA yang sama dengannya. Kekagumanku kembali hadir
ketika dialah yang menjadi pementor bagi kelompokku saat Masa Orientasi Siswa
berlangsung. Selama tiga hari MOS berlangsung, aku mendapatkan tempat duduk
yang strategis untuk terus memandanginya diam-diam. Aku berharap kala itu dia
tidak mengetahui bahwa aku telah mengaguminya sedari SMP. Tuhan memang selalu
memberi kejutan. Bagaimanapun bentuknya,
tetapi aku sangat suka dengan kejadian ini. Lamunanku burai sesaat aku
mendengar bel masuk dan artinya akupun harus kembali kedalam kelas dan
mengikuti pelajaran selanjutnya.
“Malem,
ini Tyas ya?” ada pesan masuk di handphone ku dari seseorang yang tek kukenal
nomor ponselnya.
“Iya,
ini siapa?” Aku membalas pesannya tak lama orang itu membalas pesanku “Ini Kak
Rengga.” Deg! Aku langsung terdiam, tak tau harus seperti apa ketika seorang
yang kukagumi mengabarkanku. Kubalas dengan hati-hati, hingga aku menanyakan
padanya dari mana dia mendapat nomor ponselku. Dia mengatakan bahwa dia
mendapatkan nomorku dari biodata yang aku isi ketika MOS berlangsung. Ada rasa
senang, malu, dan juga heran apa maksud dari yang telah dilakukannya padaku.
Hari
berjalan seperti biasa. Tidak ini tidak biasa, kali ini aku melalui hari-hariku
dengan kehadirannya. Dan, dia tak perlu tahu bahwa aku telah mengaguminya, biar
ini mengalir. Aku bahagia!
Kali
ini virus Vera sepertinya mulai merasukiku, aku melakukan apa yang Vera
lakukan. Aku menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Kak Rengga.
Hari-hariku mulai berwarna. Kak Rengga selalu memberi senyuman ketika aku tak
sengaja bertemu disekolah. Ah rasanya aku ingin terbang karena melihat
senyumnya.
Akhir-akhir
ini aku jarang mengobrol dengan Vera, entahlah apa yang terjadi padanya. Aku
lebih banyak mengobrol dengan teman yang lainnya.
“Eh,
tau gak sih kemarin gue liat Kak Rengga jalan sama Vera.” Kudengar cerita itu
ketika aku sedang berjalan keluar. Deg! Hatiku serasa teriris mendengar kalimat
itu. Vera sudah kuanggap sahabatku sendiri, tapi mengapa dia tega melakukan hal
itu padaku. Aku selalu menceritakan semua tentang aku dan Kak Rengga, tapi
mengapa diam-diam dia justru menusukku dari belakang. Ini menyakitkan! Aku tidak
pernah menyangka ini semua bisa terjadi. Aku marah. Ada rasa sesak didadaku. Tak
terasa ku meneteskan air mata. Aku menangis.
Aku
lebih memilih diam daripada aku harus bertengkar hanya karena masalah seperti
ini. Aku tak mengajak Vera mengobrol seperti biasanya. Aku terlalu kuat jika aku
harus bersikap seperti biasanya. Aku mendiaminya selama beberapa hari. Dan Kak
Rengga, aku tak pernah mengerti dengan apa yang dia lakukan. Hari-hari berlalu
begitu pelan, aku merasakannya seperti itu, tapi yang kudengar mereka sudah
pacaran. Hatiku teriris lagi, namun aku tak bisa melakukan apaun, bahkan Kak
Rengga tak pernah tahu bahwa aku telah mengaguminya sejak lama. Biarlah, aku
hanya berpikir dan mendoakan semoga dia selalu bahagia.
“Tyas,
lagi apa?”
“Lagi
tiduran nih Kak, ada apa?”
“Nggak,
kakak mau minta tolong, kamu kan temennya Vera. Sebentar lagi kan dia ulang
tahun, bantu kakak ya bikin surprise buat dia? Mau kan?” pintanya dengan
sangat.
Aku
berpikir lagi. Ini sangat menyakitkanku, aku sempat menagis dan menyalahkan
keadaan mengapa ini semua terjadi kepadaku sebelum aku mengiyakan untuk
membantunya dihari ulang tahun Vera. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan
mengesampingkan ras sakit hatiku. Esoknya aku diminta untuk menemaninya membeli
kue ulang tahun dan kado untuk Vera. Aku hanya berusaha untuk menelan pahit ini
bulat-bulat.
“Yang
ini bagus gak?” Kak Rengga menyadarkanku dari lamunanku.
“Ah?
Bagus kok Kak Vera pasti suka.” Aku hanya bisa menjawab sebisaku.
“Oke
kakak ambil.”
Aku
sadar Vera tahu bahwa aku tahu tentang dia dan Kak Rengga. Dia hanya terdiam
tak sedikitpun mengatakan sesuatu yang membuatku bisa memaafkannya. Aku sakit
hati. Dan aku marah kepadanya. Tak ada canda tawa yang hadir diantara kami
seperti biasanya. Aku memilih untuk tidak duduk berdampingan dengannya. Entahlah
aku rasa ini terlalu berlebihan. Tidak! Aku sakit hati, aku wajar melakukan hal
itu.
“ah,
berat sekali rasanya untukku melakukan hal itu.” Ucapku. Hari ini adalah hari
ulang tahunnya Vera. Kak Rengga berjanji untuk menjemputku kerumah dan pergi
kerumah Vera untuk memberikan surprise.
“Udah
depan rumah nih.” Pesan dari Kak Rengga. Aku hanya mengiyakan dan aku bergegas.
Indahnya.
Tak kusangka Kak Rengga adalah sosok yang sangat romantis. Dihari ulang tahun
Vera ia memberikan kado sebuah boneka Teddy Bear dengan ukuran yang sangat
besar. Kue ulang tahun yang membentukkan wajahnya, dan seikat bunga tulip. Aku semakin
teriris, melihat kesakithatian ini tepat didepan mataku. Aku mencoba
menenangkan diriku, aku memberikan senyum palsuku kepada mereka. Sungguh,
sebenarnya aku tak kuat melihat kejadian ini, aku ingin pulang.
“Aku
pulang ya. Kasian kalian takut ngerasa keganggu hehe. Selamat ulang tahun
sahabat terbaikku Vera. Semoga bahagia ya sayangku.” Ucapku sembari berpamitan
pulang. Aku tak ingin melihat lagi, aku cukup kesakitan dengan itu.
Selesai
mandi tiba-tiba kudengar handphoneku bordering. Ada pesan masuk. Dari Vera. Apa
isinya, aku lekas membuka pesan itu.
“Tyas
sayang, maafin aku. Aku gak bisa menghindarinya. Aku menyukainya. Aku dekat
dengannya ketika kau sering bercerita tentangnya. Aku juga tak bisa
mengatakannya dengan jujur padamu Yas. Aku takut kamu marah, tapi kenyataannya
kamu memang marah, dan sepertinya aku tak bisa mengembalikan senyummu. Kamu terlalu
marah padaku. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, semoga kau mai memaafkanku. Maafin
aku Tyas.”
Kutarik
napas panjang dan kubuang pelan-pelan ku beranikan melawan egoisku untuk
membalas pesan itu. “Ya, gak apa-apa, toh semua udah terjadi. Keadaan gak
sesuai harapan. Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk mengagumi saja. Kalian cocok.
Aku senang bila melihat Kak Rengga senang walalupun bukan sama aku. Aku memang
marah, aku menangis, aku gak nyangka akmu bisa kayak gitu sama aku. Tapi mau
apa lagi, semua udah kejadian. Aku gak bisa apa-apa. Aku Cuma bisa ngedoain
semoga kalian bahagia. Itu aja.”
Ya,
aku sekarang hanya bisa mencoba untuk merelakan dan mengobati lukaku secara
perlahan. Sendirian. Aku hanya berharap semoga Kak Rengga bahagia dengan apa
yang dia pilih untuk hidupnya. Aku bahagia bila dia bahagia. Ternyata aku tahu
bagaimana rasanya memendam perasaan. Seperti Vera yang menyukai Kak Andri. Aku bisa
merasakannya. Diam dalam kekaguman. Menyayangi dia diam-diam. Mendoakannya
diam-diam tanpa perlu diketahui. Kurasa aku bisa melakukan itu. Aku harus bisa.