Jumat, 09 Mei 2014

Kepada Kamu...



Kepada kamu yang menghilang, kepada kamu yang tak tahu dimana sekarang. Apa kamu mendengar jeritan tangis yang amat hebat, jeritan tangis yang diliputi rasa sesak karena menahan rindu yang amat dalam. Rindu yang diketahui tak akan pernah mendapat balasan.  Hanya mampu tertahan dalam lubuk hati yang terdalam, mencoba mengatakan kepada bibir ini untuk tidak mengutarakannya. “Tahanlah, cobalah untuk menahannya walaupun hati ini sudah dipenuhi oleh rasa sesak itu. Aku tak apa. Biarlah, biar saja dia tidak tahu akan itu”. Katanya.

Kepada kamu yang dipenuhi oleh rindu dari sosok yang sama.  Sosok yang tidak akan mungkin ingin kamu gapai, sosok yang seharusnya lenyap dari pikiranmu, tetapi masih sibuk untuk mengumpulkan ribuan rindu yang mungkin bisa saja meledak jika memang dia sudah merasakan sesak dan tidak lagi kuat untuk menahannya. Mungkin sewaktu-waktu kamu akan ditampar sebegitu kerasnya oleh rindu-rindu yang telah dikumpulkannya sejak lama.

Kepada kamu yang pergi diam-diam, entahlah, aku tidak tahu akan seberapa banyak rindu yang aku kumpulkan, rindu yang sangat hebat yang hanya bisa mampu kutahan sendirian, merindukan segalanya tentang kamu.

Kepada kamu yang selalu aku rindukan tanpa henti, aku berharap dalam diammu, aku berharap dalam hilangmu, aku berharap dalam ketidakpedulianmu, aku berharap dalam sikap dinginmu, kamu juga merindukanku dalam diam, bahkan merindukanku lebih dalam.

Kamis, 08 Mei 2014

Jangan Hentikan Hujan itu, Aku tak Ingin


Sedikit demi sedikit tetes hujan yang membasahi, menjadi saksi, menjadi jawaban atas tuhan bahwa nikmatilah setiap tetes hujan itu, nikmatilah dan resapilah. Mungkin itu yang dikatakannya.
Hingga tetesan-tetesan itu berubah menjadi derasan air hujan yang mengguyur, mungkin tuhan menambahkan ucapannya, nikmatilah kebersamaan itu, kebersamaan yang singkat, yang takkan aku beri untuk kedua kalinya, pergunakanlah dengan baik.

Hujan itu, hujan yang mengguyur mampu menorehkan senyum yang tiada henti yang tersudut dibibirku tanpa sepengetahuan dia, orang yang mampu membuatku hampir tidak bisa terlelap setiap malam. Menyadari bahwa itu nyata, aku mencoba untuk menampari pipiku berkali-kali, menyadari bahwa itu bukanlah mimpi. Ini benar-benar terjadi, dia ada didepanku, berada dijarak yang sangat dekat tanpa disekat oleh apapun. Dia ada bersamaku, menikmati setiap detik bersama, bersama hujan yang tak kunjung reda, walaupun aku tahu pikirannya tak sepenuhnya tertuju padaku.

Mencoba memori otakku untuk menyimpan nada suaranya, menyimak setiap kalimat yang diucapkannya, yang larut dalam candaan dan tawaan–tawaan kecil didalamnya. Sungguhlah aku sangat menikmati setiap detik saat bersamanya.

Terdiam dalam kesibukan masing-masing, tak tahu apa yang harus aku lakukan, yang aku tahu, aku hanya berusaha untuk tak terlihat aneh dihadapannya. Aku diam, diam karena senang, tak mampu banyak berucap walaupun aku telah membuat, merangkai kata-kata, apa yang akan dibicarakan agar peristiwa yang mustahil adanya itu menjadi peristiwa yang benar-benar mampu membuatku bahagia.

Dalam diamnya, aku juga diam-diam memperhatikan wajahnya, mungkin dia tak sadar bahwa aku sedang asik memperhatikannya. Aku tersenyum dalam hati, menahan sesak karena bahagia ini tidak dapat aku tunjukkan langsung padanya, aku berusaha untuk menahan bahagia ini dalam hati. Ingin rasanya berteriak, melepaskan semua yang dirasakan karena senang yang berlebihan, tapi sulit. Diam mungkin lebih baik. Karena aku tak sepenuhnya tahu apa dia juga merasakan itu.

Dan aku hanya berharap agar hujan tak reda, agar hujan tak menghilang pertanda habislah waktuku untuk bersamanya. Aku tidak ingin.


Selasa, 06 Mei 2014

Tentang Kamu yang tak akan pernah bisa Ku Gapai

Kini aku hanya bisa tersenyum melihat kenyataan yang hampir mencambukku setiap hari, senyum yang ku buat-buat. Sedih, sakit, serasa hati diremas begitu kencang. Sangat sesak rasanya. Berkali-kali aku pikirkan lagi, aku berdebat dengan diriku sendiri. Disatu sisi diriku berkata ini tidak mungkin terjadi, pastilah ini hanya sebuah lelucon saja. Namun disisi lain diriku berkata mungkin saja itu benar, dan kamu harus siap menerimanya.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Terperangkap dalam sebuah rasa yang dijatuhkan dengan kerasnya tanpa sempat terbalaskan. Terdiam, membayangkan betapa bahagianya orang yang kini bersamamu. Penuh canda tawa, perhatian, kasih sayang disetiap harinya. Sedangkan aku? Tertunduk , menahan sesak yang memberatkan pernapasanku, yang secara tak sadar mataku pun ikut terbawa oleh suasana hati yang sesak itu. Tangis yang berusaha untuk kutahan, namun akan sangat sakit lagi bila memang harus ditahan.

Tersenyum dalam setiap harimu yang bahagia, dan menyedihkan karena sebab bahagiamu  bukanlah aku. Melihatmu mampu menyejukkan orang yang mencintaimu, sedangkan aku? Hanya sendiri berusaha mengobati diri agar tak terlalu sakit dengan kenyataan menyakitkan itu.

Aku bahagia bila kamu disana bahagia, dengan orang yang mencintaimu. Tapi akan lebih bahagia lagi jika akulah penyebab bahagiamu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Rasanya apa yang aku lakukan, aku usahakan, aku perjuangkan adalah suatu yang sia-sia. Karena kamu sudah menemukan sosok yang bisa membuatmu bahagia setiap harinya.

Mungkin banyak orang yang mengatakan “Pergi sajalah, jika kamu bertahan dengan kenyataan yang sudah jelas menyakitkan, mau sampai kapan hatimu tersakiti? Sedangkan orang yang kamu cintai tidak pernah memedulikanmu, memikirkanmu sedikit saja tidak.” Ya, kupikir kata-kata itu benar, tetapi mengapa sebagian dari diriku sibuk menolak kalimat-kalimat itu, selalu membuat bahwa semuanya akan baik-baik saja walaupun pada nyatanya sudah jelas pada nyatanya aku yang tersakiti disini.

Dalam setiap getir doa yang ku ucap untukmu, tenanglah aku tak pernah mendoakan hal yang buruk menimpa kepadamu. Hanya aku meminta kepada-Nya untuk selalu membuatmu bahagia, berdoa agar kamu tak pernah ada diposisi yang sama sepertiku saat ini. Jangan, jangan pernah, ini sangat menyakitkan untuk kamu alami.

Berbahagialah kamu dengan orang yang mampu membahagiakan hidupku, membahagiakan harimu, mampu membuatmu jatuh dipundaknya ketika kamu merasakan lelah, mampu membuatmu tersenyum, bahkan tertawa bila kamu merasa bosan, yang mampu memberi perhatian yang besar sesuai yang kamu inginkan. Mungkin semuanya hanya ada pada dirinya, bukan aku, bukan aku yang sebenarnya bisa memberikan lebih dari itu. Tapi itu pilihanmu. Tak apa, biar aku disini sendiri, meratap, dan berharap sesuatu yang tak akan mungkin pernah bisa kugapai. Kamu.


Minggu, 04 Mei 2014

Diam atau Pergi?


Apa kamu masih berharap buat dia yang menyukaimu saja tidak? Apa kamu masih mau berharap untuk dia yang sudah jelas-jelas menolak atas perasaan yang kamu punya untuk dia?  Hey, sadarlah dia sudah jelas-jelas menolak kamu dan artinya dia ingin kamu enyah dari kehidupan dia. Menjauh. Hilang ditelan bumi. Mungkin.

Apa kamu tahu bahwa kamu bukanlah satu-satunya orang yang berharap untuk dia? Bahwa kamu bukan satu-satunya orang yang rela menunggu dia berlama-lama? Dan apa yang terjadi ketika orang yang rela kamu tunggu sejak lama dan dia yang kamu harapkan memilih dia yang bukan kamu? Apa kamu siap dengan keputusan itu? Bersiaplah..

Mungkin seseorang yang bernasib sama denganmu karena telah memperjuangkan dia, sama seperti kamu kini berada diatas kamu yang mungkin sedang bersenang-senang karena usaha untuk memperjuangkan dia tidak sia-sia. Terlarut dalam rasa puas karena dia memilih dia yang bukan kamu.

Apa kamu masih ingin bertahan dalam harapmu yang tak mungkin bisa terbalas? Atau kamu berbalik arah, menjauh, mengalah, dan mengikhlaskan dia yang kini sudah bersama orang lain? Hanya kamu yang tahu dan hanya kamu yang dapat memutuskan apa yang mau kamu lakukan. Diam dalam kesakit hatian atau pergi mengobati luka dan perlahan melupakan.


Apa Kamu Yakin?


Pernahkah kamu berpikir tentang dia, orang yang kamu banggakan, orang yang kamu cintai sebegitu dalamnya merasakan apa yang kamu rasakan? Terjatuh dalam sebuah perasaan yang sia-sia? Sebuah perasaan yang dalam, namun tak berarti untuk seorang yang kamu cintai itu. Entah ..

Sebuah perasaan yang timbul sebegitu nyatanya, hanya untuk dia. Tapi dia tak berani untuk melihatnya. Karena dia memutuskan untuk tidak ingin terjebak didalamnya. Dia lari dengan cepat, lari menghindarimu, lalu menghilang dalam kejauhan hingga kamu tak lagi dapat menjangkau keberadaanya.

Tak sadarkah kamu bahwa dia memang tak inginkan kamu? Tak sadarkah kamu bahwa yang ia lakukan adalah satu-satunya cara untuk tak terlibat dengan kisahmu? Tak sadarkah kamu bahwa ia tidak mau ada kamu dalam hidupnya? Sadarlah.

Ketika keegoisan sudah menggelayuti, kenyataan yang pahit juga sudah ada didepan wajahmu, menamparimu berkali-kali,mencoba menyadarkanmu bahwa dia memang tidak mencintaimu. Bodoh.

Apa kamu mau terus berada dalam kebodohan yang kamu buat sendiri? Terus berharap bahwa suatu saat dia, orang yang kamu cintai mampu mencintaimu lebih dari kamu mencintainya? Bahwa suatu saat kamulah orang yang pantas untuk bersama dia? Bahwa suatu saat kamulah orang yang menjadi pilihan terakhir untuk hidupnya, dan menghabiskan sisa hidupnya denganmu? Apa kamu yakin itu akan terjadi kepada kamu, bila sebenarnya memang kini dia sudah menemukan orang yang patut untuk dicintainya dengan dalam?