Hai. Apa
kabarmu? Semoga kamu tak bosan dengan sapaanku yang melulu seperti ini. Selalu
menanyakan keadaanmu yang memang tak pernah kuketahui, apakah kamu sehat
disana, kamu sudah makan atau belum, bagaimana dengan aktivitasmu sehari-hari,
walaupun itu hanya kukatakan dalam hatiku, kuharap semuanya baik-baik saja.
Entahlah,
rasanya setiap tuts yang kuketik, semua kata yang dihasilkan menjadi sebuah
cerita bagaimana aku mengemas rinduku untuk kamu. Mungkin jika tuts ini dapat
berbicara, ia bisa saja mengatakan bahwa “aku lelah harus mengetik semua
tentang rasa rindumu yang tak ada hentinya, dan aku juga tahu pastilah rindu
itu tak pernah terbalas, bahkan tersampaikan saja tidak”.
Ya, mungkin
seperti itulah akhir dari setiap rindu yang ku punya untukmu, selalu tak pernah
terbalaskan, bahkan untuk tersampaikan saja tidak. Jadi, bagaimana kamu bisa
mengetahuinya kalau aku memang hanya bisa menyimpannya dalam hati dan rasanya
tertahan untuk tidak mangcapkannya. Biarlah..
Aku hanya
berharap dalam diammu kamu mengetahui semuanya, mengetahui semuanya bahwa aku
punya ribuan rindu yang tak tersampaikan untuk kamu, dan aku berharap kamupun
telah mengemas ribuan rindu untukku yang tak bisa terucapkan. Aku berharap kita
diam dalam rindu yang menggebu, yang sewaktu-waktu bisa saja kita meledakkan
rindu itu menjadi cinta yang tulus adanya. Semoga, dan kamu harusnya tahu bahwa
itu doa terbesar yang ku punya untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar