Selasa, 29 Juli 2014

Kukenang Namamu di Surga

Aku terbangun dari tidurku yang lumayan lelap, karena semalam aku memang habis lembur bekerja. Kucoba untuk mengecek ponselku, terdapat pemberitahuan satu pesan dan satu pamggilan yang tak diangkat olehku, sebegitu lelapkah aku tertidur hingga suara ponselku tak terdengar. Kulihat nama Gilang dalam pesan itu isinya “ Selamat Pagi Sayang, udah bangun belum? Aku kangen, kamu kemana aja seharian kemarin gada kabar.” Langsung kubalas pesan itu yang mengatakan bahwa aku kelelahan karena habis lembur dan aku baru saja bangun.

***

Hari ini hari libur, waktuku untuk bersantai. Aku tak ingin waktu liburku yang sangat berharga ini diganggu oleh ribuan pekerjaan yang terus mencariku untuk segera diselesaikan. Aku berencana untuk pergi rekreasi bersama Gilang. Dia adalah kekasihku, kekasih yang sangat aku cintai. Dan aku tahu, semoga itu benar bahwa dia juga sangat mencitaiku. Hanya itu.

“Sayang, kita ketemu di taman biasa ya.”
“Iya, sampai ketemu disana ya.”
“Iya, love you.”
“Love you too.”

Aku bergegas untuk pergi menemuinya, karena dia memang orang yang tepat waktu. Ia sering memarahiku karena masalah waktu. Ia mengatakan bahwa segala sesuatunya harus tepat waktu. Aku hanya bisa mengangguk dan menunduk seperti gadis kecil yang baru saja jatuh dari sepedanya dan sedang dimarahi oleh orang tuanya. Namun aku tahu itu adalah bukti dari perhatiannya, agar aku tak selalu mengecewakan orang lain  dengan keterlambatanku.

Sebenarnya Gilang adalah sosok yang aku impikan sejak pertama aku melihatnya. Senyum yang selalu dilontarkannya mampu membuatku tidak bisa tidur, sebegitukah yang namanya jatuh cinta, aku tidak pernah bisa memahami mengapa orang yang sedang dimabuk asmara bisa melakukan hal yang semestinya tak harus dilakukan, entahlah kuyakin bukan hanya aku yang melakukan hal konyol seperti itu.
Aku celingak-celinguk mencari keberadaannya ditaman yang cukup luas itu, ah akhirnya kudapatkan batang hidungnya.

“Maaf aku telat hehe.”
“Udah biasa kamu telat, yaudah ayo pergi.”

Seharian ini aku menghabiskan waktu bersamanya, pergi ketaman bermain, kebun binatang dan berakhir disebuah restoran sunda yang terletak tak jauh dari tempat kerjaku. Tempat itu sudah menjadi langganan kami. Kami langsung mencari tempat lesehan yang kosong dan memesan makanan.
Terlihat wajah bahagianya karena kami bisa bertemu setelah kami disibukkan oleh pekerjaan kami masing-masing. Maka dari itu hari libur adalah hari yang kurasa sangat pas untuk kami sama-sama menumpahkan semua rasa rindu yang tertahan.
Aku dikagetkan dengan makananku yang sudah datang.

“Cepet dimakan, nanti sakit siapa yang repot.” Kata Gilang. Aku langsung memakannya dengan perlahan.
Dalam keheningan karena aku sedang menikmati setiap suapan makanan yang kumakan tiba-tiba aku dikagetkan dengan sesuatu yang mampu membuatku tersedak.
“Aku mau lamar kamu.”
“Haah? Tidak salah? Kok gada basa-basinya hahaha.” Sifatku yang periang memang membuatku easy going.
“Aku serius Diandra Vellita Syah! Harus berapa kali aku mengatakan ini?” begitu lantangnya dia menyebut namaku, dan meminta seperti itu terus.

Perkataanya membuatku dalam sekejap terdiam. Sebenarnya aku bisa saja mengatakan aku mau menikah dengan dia hanya saja mengapa sebagian dari pikiranku mengatakan bahwa aku belum siap menikah padahal bila dilihat dari ekonomi kami sudah sama-sama mapan untuk bisa menghidupi keluarga, tapi entahlah mengapa aku belum saja siap dengan itu, dan ini adalah ajakannya yang keempat.
“Sayang, Kamu mau kan nikah sama aku? Tanya Gilang penuh harap kepadaku. Dilihat dari tatapan matanya yang begitu tulus aku bisa menyimpulkan bahwa dia memang benar-benar mencintaiku dan menginginkan aku seutuhnya untuk menghabiskan hidupnya bersamaku.
Aku hanya bisa terdiam, tak tahu harus bagaimana.
“Aku…Aku belum si..”
“Belum siap? Selalu itu yang kamu bilang, kalau kamu merasa belum siap lalu mau kapan kamu siap? Kamu belum percaya sama aku?”
“Aku percaya sama kamu Gilang Fudlyansyah, emm tapi…”
“Tapi apa?”
“Aku belum bisa menjawab itu, aku belum siap dengan sebuah pernikahan.”
“Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu menjawab bahwa kamu bersedia menikah denganku.”

***

Aku bergulat dengan pikiranku sendiri, menangis sejadi-jadinya, memikirkan semua tentang Gilang yang sangat sempurna dimataku. Aku ingin menikah dengannya, aku ingin menjadi ibu untuk anakku nantinya. Setiap pagi sibuk membantu anakku untuk bersiap-siap pergi kesekolah, sibuk membuat sarapan untuk kami, dan pergi bersama diwaktu senggang. Indah rasanya. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu, aku belum siap dengan semuanya, aku tidak ingin mengecewakan Gilang. Aku terlalu takut untuk tidak bisa membuatnya bahagia dengan pernikahan ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari Bandung, meninggalkan semuanya tentang kota yang membesarkanku, meninggalkan pekerjaanku yang tertunda. Biarlah, aku hanya ingin menenangkan pikiranku yang kalut memikirkan ini-itu. Aku meninggalkan Gilang tanpa memberi kabar apapun. Aku yakin dia akan mencariku tanpa henti. Biarlah. Aku ingin sembunyi dari hiruk pikuk. Dari Gilang juga tentunya.

***

Tok tok tok
“Permisi.”
“iya tunggu sebentar.”
“maaf gue mau Tanya ini bener rumahnya Gilang Fudlyansyah?”
“Iya. Gue Gilang, ada apa? Lo siapa?”
“Maaf sebelumnya, perkenalkan nama gue Nindy, gue temennya Diandra…”
“Jadi kamu tau Diandra dimana? Tolong kasih tau gue dimana Diandra, please.” Pinta Gilang dengan sangat.
“Iya. Gue bakal ceritain nanti tapi lo yang tenang dulu.”
“Apa maksud perkataan lo? Silahkan masuk dan mending cepet ceritain dimana dia, gue kangen banget sama dia. Please.”
“iya. Tapi Diandra cuma nitipin ini sama gue. Silakan dibaca.”

Sayangku, seseorang yang mampu membuatku merasa sempurna. Unutukmu seorang yang mampu membuatku berarti, tenanglah aku baik-baik saja disini. Maafkan aku karena telah pergi diam-diam, maafkan aku karena aku telah membuatmu khawatir akan keadaanku. Maafkan aku juga yang tak segera menjawab pertanyaanmu saat kita sedang makan direstoran waktu itu. Jika aku boleh mengatakan sesuatu, sebenarnya aku sangat ingin menjawab iya untuk pertanyaan itu, aku ingin menjadi bagian dari hidupmu seutuhnya, kamu boleh menjadikanku belahan jiwamu dan mencintaiku dengan utuh. Rasanya indah bila membayangkan kelak kita akan sibuk dengan mengurus sosok yang mampu membuat kita kesal, jengkel, senang, bahagia dan tentunya kita mencintainya dengan sepenuh hati, Sayang.
Berulang kali aku memantapkan hatiku untuk bisa membuat bibirku mengucapkan dengan lantang bahwa aku mau menjadi bagian dari hidupmu selamanya, bersedia mencintaimu dengan tulus, berusaha untuk selalu membuatmu bahagia selamanya, tapi entah mengapa aku tidak bisa mengatakan kalimat itu dengan lantang. Rasanya ada sesuatu yang membuatku terhenti dan tak bisa berkata-kata.
Aku terkena Leukimia, aku tak tahu kenapa aku bisa mengidap penyakit yang mematikan ini, maaf jika aku tak mengatakan hal ini kepadanmu. Sebenarnya ini yang membuatku takut akan pernikahan. Aku takut untuk tidak bisa membahagiakanmu. Aku terlalu takut untuk nantinya membuatmu sedih. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku jika aku tiba-tiba pergi meninggalkanmu. Aku yakin kamu pasti menemukan seorang yang mampu membuatmu lebih bahagia dibanding aku. Aku mencintaimu Gilang, aku cinta dengan sepenuh hatiku. Akan aku ceritakan pada bidadari disurga sana bahwa aku mempunyai cinta yang kubawa hingga aku berada bersama mereka dan itu kamu Gilang.

“Diandra pergi setelah lo melamar dia waktu itu, dia emang cinta banget sama lo. Tapi, dia gak mau ngecewain lo dengan keadaan dia yang lagi sakit keras. Dia gak cerita sama lo tentang penyakitnya karena dia juga gak mau bikin lo sedih. Dia bilang sama gue, bahwa dia mau jadi pendamping lo tapi balik lagi, kayaknya itu gak mungkin. Dia juga pergi diam-diam dari lo cuma dengan maksud ingin menyembuhkan penyakitnya yang makin lama makin parah. Dia Cuma lagi berusaha melawan penyakitnya, dia harus bulak-balik rumah sakit buat kemoterapi. Tapi hasilnya nihil. Keadaan dia makin lama makin buruk. Penyakit it uterus menggerogoti tubuh mungil Diandra. Selama gue menemani dia berobat, dia sangat semangat untuk hidup. Dia selalu cerita, bahwa dia akan menjawab pertanyaan yang belum dia jawab buat lo. Tapi emang semua kenyataan gak selalu bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Diandra pergi begitu cepet, dia pergi ketika penyakitnya kambuh dan saat itu gue lagi manggil dokter buat meriksa dia. Keadaan gak sesuai dengan harapan. Tapi sebelum dia pergi, dia sempet kasih surat ini buat lo. Dia kasih juga alamat lo dimana biar gue bisa dengan mudah kasih surat itu. Dia minta sama gue buat kasih surat itu ketika gue udah pergi buat selama-lamanya. Dan mungkin ini adalah waktu yang tepat buat gue kasih surat itu, Lamg. Maafin gue, gue gak bisa berbuat apa-apa buat lo, karena ini permintaan terakhir Diandra.” Ucap Nindy dengan penuh air mata.
“Iya, gue ngerti itu semua. Semua udah berlalu. Udah gak ada lagi yang bisa gue tunggu didunia ini. Diandra udah pergi ninggalin gue. Lalu apa yang harus gue lakukan sekarang?”
“Lo harus tetap jalani hidup lo meski tanpa dia. Itu yang diucapin Diandra. Dia yakin bahwa ada prang yang lebih tepat untuk bisa bersama lo.”
“Terimakasih karena lo udah kasih tau semuanya.”

***


Kini aku hanya bisa merenung. Menyadari bahwa seseorang yang aku cinta dengan sepenuh hati telah pergi meninggalkanku. Ya, aku sadar sekarang bahwa sesuatu yang kita harapkan dan kita inginkan tak selalu sesuai dengan takdir Tuhan. Usahamu untuk memperjuangkan hidupmu tak bisa melawan takdir yang telah digariskan Tuhan. Mungkin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah untukku dan juga kamu, Diandra. Tenanglah kamu disana, berbahagialah kamu dengan bidadari-bidadari surga disana. Meneguk air dari sungai yang jernih, biar aku disini sendiri terpasung dengan kenyataan yang menyedihkan itu.  


Aku hanya Butuh Waktu

Tenanglah. Sabar. Aku hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk benar-benar menyerah dalam perjuangkan kamu. Sungguh ini bukan hal yang mudah bagiku untuk menyerah atas apa yang sedang aku perjuangkan, meski harusnya kamu tahu bahwa rasaku nyata untukmu dan aku berusaha untuk menambah kadar itu disetiap harinya. Tapi, aku sepertinya telah salah. Kamu tidak menginginkannya.

Rasanya sangat sulit untukku mempertahankan perasaan yang tiada pembalasan. Bukannya aku egois, tapi bukankah perasaan yang besar akan terkikis sedikit demi sedikit bila terabaikan? Bukankah perasaan yang besar akan hilang dengan perlahan bila sang empunya tiada mengusik sediktpun? Dan bukankah itulah yang kamu inginkan? Menghilang dari hadapan dan tiada lagi mengusikmu dengan rasa yang kamu anggap bodoh ini? Berusaha sekuatmu untuk menenggelamkan semua rasaku?

Jangan salahkan aku, jangan salahkan perasaan aku yang ada untukmu. Jangan. Ini hanya sebuah rasa yang wajar adanya bagi mereka yang mengerti dan merasakan. Bisa merasakan bagaimana jatuh cinta. Bisa merasakan bagaimana rasanya berada diatas awan karena kegirangan. Dan bisa merasakan bagaimana rasanya terabaikan. Jatuh. Terpuruk. Tenggelam. Mati atas perasaan itu sendiri.
Aku tahu, kamu amat tidak menginginkan ini. Tenanglah. Perlahan semua keinginanmu akan terwujud. Aku hanya butuh waktu bia kamu mau. Dan ingatlah, bukan berarti aku benar-benar menyerah atas kamu. 



Jumat, 18 Juli 2014

Kukemas Rindu Untukmu

Hai. Apa kabarmu? Semoga kamu tak bosan dengan sapaanku yang melulu seperti ini. Selalu menanyakan keadaanmu yang memang tak pernah kuketahui, apakah kamu sehat disana, kamu sudah makan atau belum, bagaimana dengan aktivitasmu sehari-hari, walaupun itu hanya kukatakan dalam hatiku, kuharap semuanya baik-baik saja.

Entahlah, rasanya setiap tuts yang kuketik, semua kata yang dihasilkan menjadi sebuah cerita bagaimana aku mengemas rinduku untuk kamu. Mungkin jika tuts ini dapat berbicara, ia bisa saja mengatakan bahwa “aku lelah harus mengetik semua tentang rasa rindumu yang tak ada hentinya, dan aku juga tahu pastilah rindu itu tak pernah terbalas, bahkan tersampaikan saja tidak”.

Ya, mungkin seperti itulah akhir dari setiap rindu yang ku punya untukmu, selalu tak pernah terbalaskan, bahkan untuk tersampaikan saja tidak. Jadi, bagaimana kamu bisa mengetahuinya kalau aku memang hanya bisa menyimpannya dalam hati dan rasanya tertahan untuk tidak mangcapkannya. Biarlah..


Aku hanya berharap dalam diammu kamu mengetahui semuanya, mengetahui semuanya bahwa aku punya ribuan rindu yang tak tersampaikan untuk kamu, dan aku berharap kamupun telah mengemas ribuan rindu untukku yang tak bisa terucapkan. Aku berharap kita diam dalam rindu yang menggebu, yang sewaktu-waktu bisa saja kita meledakkan rindu itu menjadi cinta yang tulus adanya. Semoga, dan kamu harusnya tahu bahwa itu doa terbesar yang ku punya untukmu.

Rabu, 16 Juli 2014

....

Setiap harinya aku harus terbiasa dengan menahan sesak yang tertanam dihatiku. Entahlah, awalnya aku tidak ingin terlalu mengacuhkannya, hingga aku mencari akar dari semua rasa sesak dan cemasku. Ya! Aku telah menemukannya. Ini bukan hal yang biasa. Ini sebuah rindu, rindu yang menunggu untuk diketahui dan terbalaskan. Ini sebuah rindu tanpa pembalasan. Sakit bukan?

Aku sadar,ternyata selama ini aku sedang memendam sebuah rindu. Tidak! Ini bukan sebuah, melainkan ribuan. Ribuan rindu yang tak pernah terbalaskan, walau hanya satu diantaranya.
Rindu yang kian lama kian bertumpuk, bertumpuk untuk meminta balasan yang serupa. Namun kutahu, itu takan pernah mungkin terjadi. Belum pernah sebelumnya aku merindu sekalut ini. Aku hanya bisa menahan, menahan hingga mungkin rindu-rindu itu sudah tak mungkin bisa tertampung lagi dan membuat hati itu sobek. 

Apa kau tahu rasanya merindu hingga aku mau bersimpuh diatas sajadahku dan mengadu pada Tuhan atas rinduku? Apa kau tahu rasanya merindu seorang yang tak peduli bahkan tak mengetahuinya? Sakit. Perih!
Bukankah cinta yang tulus adalah cinta yang tak pernah mengharapkan sebuah pembalasan yang serupa? Tapi, apakah manusia mau untuk menerimanya? Kuyakin tidak ada!

Karena setidaknya cinta yang sangat tulus pun ingin mendapatkan balasan yang sama walau hanya secuil. Entahlah, kapan aku bisa berhenti mengumpulkan rindu untukmu hingga kamu tahu bahwa ribuan rindu ini tercipta, dan ada hanya untukmu. Seorang.

Kadang terlintas dalam pikirku untuk berhenti perjuangkan kamu, karena aku sangat tahu bahwa kamu tak pernah mau tahu itu. Tapi entah mengapa, aku terus dihantui oleh rasa yang mengatakan bahwa bila aku berhenti, hanya seginikah perjuanganku?

Karena itulah, setiap kali aku ingin menyerah, justru aku ingin terus perjuangkan kamu.


Sebuah Puisi tentang Keegoisan

Kamu ingat saat kau tahu aku punya rasa untukmu?
Kamu ingat saat pertama kali aku mengutarakan rasa bahagiaku karena aku diberikan waktu untuk bersamamu?
Kamu pun tahu bukan saat tak bisa banyak berkata saat aku ada didepanmu, dan memandangmu dengan malu?
Bukankah kau tahu bahwa aku sangat bahagia saat kamu ada bersamaku?
Tidakkah kamu memikirakan bahwa aku sangat terluka karena merindukanmu?
Tidakkah kamu sedikit saja untuk bisa merasakan bahwa aku telah jatuh sepenuhnya untukmu? Seorang?
Kau tahu?
Aku disini hanya menginginkan bahwa kamu juga menginginkan aku
Aku hanya ingin kamu mau aku seperti aku yang mau kamu
Aku hanya ingin kamu pun berdoa dalam sujudmu layaknya aku yang selalu bedoa diatas sajadahku
Aku hanya ingin kamu mengharapkanku sebagaimana aku yang juga mengharap kamu dalam cemasku

Dan aku juga hanya ingin kamu merindukanku jauh lebih dalam dan jauh lebih besar dari aku yang selalu merindumu dalam diamku.