Jumat, 28 November 2014

Gelisah Seorang Pecandu Rindu


Kepada kamu yang dirindu
Perkenalkan aku seorang pecandu rindu
Seorang pecandu yang mengumpulkan rindu beribu
Menanam dalam hati berharap lambat laun dapat tertuju

Aku karang yang terhempas ombak kencang
Aku api yang kian lama kian mengerang
Aku daun yang goyah dari ranting yang rindang terbentang
Aku satu dari ribuan ilalang dipadang

Aku bertanya inikah risiko yang harus ditanggung oleh hati
Rasa tak sanggup untuk menutupi
Rasa gusar yang terus ingin ditanggapi
Rasa gelisah yang menggelayut  ingin ditabahi

Bagai diri yang bisu
Aku hanya mampu manahan pilu
Pilu atas rindu yang menggebu
Menanti seorang yang diandai datang ingin bertemu

Jumat, 21 November 2014

Aku, ya aku memang tidak pernah pandai dalam mencintaimu, aku bukan lah orang yang bisa mengertimu seutuhnya. Aku memang tidak bisa meyakinkanmu perihal ini. Aku memang bukan dirinya yang bisa sepenuhnya kamu inginkan. Aku memang tidak bisa melakukan apa yang dia lakukan untukmu.  Aku disini hanya setitik noda dari ribuan coretan pada kertasmu. Dengannya.  Aku tidak bisa mengubah apapun. Aku tidak akan pernah bisa memberikan coretan yang sama pada kertasmu. Aku bukan dia yang bisa mencintai seperti dia yang mencintaimu dengan utuh.
Aku disini hanyalah diri yang mencoba untuk melakukan itu, menerka-nerka seperti apa cinta yang kau inginkan. Menerka-nerka seorang diri semua tentangmu, hanya seorang diri. Melawan semua angin yang mencoba untuk menjatuhkan tegak berdiriku, terhadapmu. Aku hanya seorang yang sedang mencoba memberimu perlahan ketulusan yang kupunya ini. Ah, tidak sampai kapanpun aku memang tidak akan pernah bisa pandai dalam mencintaimu. Buktinya aku tidak berhasil untuk membuatmu tersenyum seperti yang kuinginkan waktu itu walau hanya sekali lagi, saja. Ternyata benar mencintaimu bukanlah perkara yang mudah, sebab aku harus berkali-kali terjatuh. Menikmati kesakitan yang kubuat sendiri, memilih untuk menikmati rindu yang tiada pernah bisa tertuju, memasuki ruang yang terkunci itu, hatimu.
Katakan padaku apa yang harus aku lakukan? Berhentikah? Menyerahkah? Itukah yang harusnya kulakukan? Tenanglah perihal itu aku pernah mencobanya, tetapi hati kecilku mengatakan aku harus tetap bertahan dalam cinta yang memakan hatiku sendiri. Hei bukankah ini pertanda bahwa aku sedang belajar mencintamu dalam kepedihanku?
Bimbang, aku takut untuk menyerah. Sungguh.
Bolehkah aku meminta satu hal darimu? Hanya satu saja? Bolehkah? Aku hanya meminta kepadamu tolong ajari aku bagaimana cara mencintaimu dengan benar layaknya ayahku yang mengajariku bagaimana caranya berjalan dengan benar tanpa harus tersandung batu didepan mataku. Atau mungkin dengan sangat berat hati dan sebenarnya tidak ingin kulakukan, tolong ajari aku untuk tidak lagi mencoba untuk mencintaimu.

(Tapi dalam hati terkecilku aku memohon bahwa kamu tidak pernah menginginkan aku untuk menyerah dalam mencintaimu).

Sabtu, 08 November 2014

Aku benci dengan malam. Karena malam selalu berhasil membedah memori diotakku. Dan yang paling parah adalah ia selalu berhasil membedah memoriku tentang kamu. Hanya kamu. Mengapa setiap malam datang kamupun selalu datang dalam pikiranku. Ini salah otakku yang terlalu kosong, atau memangkamu sengaja masuk dalam pikiranku untuk selalu aku pikirkan. Memikirkanmu memang tiada pernah habis. Akupun tak pernah mengeluh bila tiba-tiba aku teringat kamu. Aku menikmatinya, sepertinya ini sudah menjadi menu sehari-hariku. 
Mungkin ini memang salahku yang menganggap semuanya akan berakhir bahagia. Aku salah. Aku telah ditampar dengan ribuan besi panas yang tajam yang mengiraku untuk berhenti dan menyerah. Aku telah ditampar dengan kenyataan-kenyataan yang tak sedikitpun sesuai dengan apa yang aku ucapkan dalam keluh kesahku pada pemilik semesta. Aku bukan yang kamu inginkan. Aku memang tidak pernah kamu inginkan.
Bodohnya aku yang telah dengan lancang mengharapnya pada Tuhan untuk menjadi hidupku. Bodoh. Harapanku terlalu tinggi untuk kucapai dengan sendirinya. Pada kenyataannya, aku tak sanggup membuka kunci hatimu yang mungkin telah berkarat menyimpan namanya. Aku telah gagal membersihkan hatimu yang telah usang. Aku tak bisa meluluhkan hatimu. Maafkan aku yang mempunyai perasaan yang tak pantas ini. Aku bahkan sadar bahwa kesia-siaanku telah nyata didepan mataku. Lalu apa lagi yang bisa aku perjuangkan dari kesia-siaan ini Tuhan? 
Tak sekali aku bergelut dengan diriku sendiri. Berdebat antara pergi atau bertahan. Aku ingin bertahan. tapi kenyataanpun yang harus memilih pergi. Tidak. Aku masih ingin bertahan dalam keterpurukanku untuk sekedar bisa bersamamu yang sulit untuk kugapai. Aku hanya mengandalkan suaraku untuk Tuhan agar mau mengabulkan pintaku terhadapmu. Salahkah bila aku meminta seperti itu kepada Tuhan? Semoga kamu jawab tidak 
Karena mencintaimu bukanlah perkara yang mudah. sebab aku harus berkali-kali menyerah dan kemudian bangkit untuk kembali mencintaimu. Maaf.