Senin, 13 Oktober 2014

Semoga Kau selalu Bahagia

Kulihat jam dinding diruang tamu dirumahku, pukul 06.30 terlihat jelas dimataku. Ah sialan aku terlambat lagi kesekolah. Aku buru-buru untuk memasukkan buku pelajaranku dan memakai sepatuku. Ini hari senin. Upacara. Aku tak boleh terlambat kecuali aku siap untuk distrap berdiri didepan murid lain yang sedang upacara.
“Mah, Tyas pergi dulu udah kesiangan banget nih, Assalamualaikum.” Ucapku buru-buru.
“Iya Waalaikumsalam, hati-hati ya Yas.”
Tak kuhiraukan perhatian ibuku, aku langsung mengendarai motorku yang sudah kupanaskan sedari pagi.

“Ayo cepet cepet udah mau dimulai upacaranya!” ucap Pak Darmanto. Dia memang guru yang tegas, bukan tegas tapi galak.
Aku cepat cepat memilih tempat dimana teman-teman kelasku berada. Yap akhirnya aku berdiri sejajar dengan teman-temanku. Huufft.
“Tuh Yas liat disamping gue siapa? Hehe.” Ucap Vera kegirangan. Aku baru sadar ternyata disebelaku adalah barisan kakak kelas. Kulihat disebelah Vera adalah Kak Andri. Ya, Kak Andri adalah sosok yang banyak diagungkan oleh teman-temanku. Aksinya yang sangat keren ketika mendribel bola basket dan menuntunnya memasukkan ke ring dengan loncatannya yang indah memang tak dapat diragukan lagi. Sangat keren. Wajah yang tampan juga menjadi nilai tambah baginya dan semakin banyak yang mengaguminya. Termasuk Vera.
“Kak Andri? Yelaah lebay lo ah.”
“Lo jangan keras-keras napa ngomongnya, tar kedengeran kan gue malu kampret.”
“Haha nggak bakal lah lagian ini berisik banget.”
Upacara berlangsung khidmat setelah kepala sekolah memarahi semua murid karena tidak mau diam. Kepala sekolah ku memang terkenal seram, dan tentunya ditakuti oleh semua murid termasuk aku. Untuk ukuran siswa baru aku sangat takut kepada beliau.
Upacara berakhir, seperti biasa siswa tidak berlarian menuju kelas, tetapi kantin. Ya, kantin penuh setelah jam upacara berakhir. Banyak murid yang tak bisa mengantri untuk membeli makanan hingga banyak aksi dorong-dorongan yang terjadi juga banyak teriakan yang mengatakan bersabarlah. Yap, aku berhasil mendapatkan sekotak nasi goreng dan juga air mineral. Nasi goreng itu akan cepat habis bila memang kita banyak mengalah dan tidak berusaha untuk berebut. Leganya, setelah itu aku dan Vera kembali menuju kelas.
“Aaaah Tyas, kamu liat gak tadi juga waktu kita beli sarapan, ada kak Andri loh?” ucap Vera genit. Dia memang sangat mengagumi sosok Kak Andri. Entahlah aku tak tahu apa sebabnya. Kupikir dia terlalu berlebihan dalam mengagumi seseorang.
“ Iyakah? Ko aku gak liat ya?”
“Iya gak bakalan liat lah, kamu kan sibuk berebut ngambil nasi goreng, bzzzzz.”
“Ahaha iya benar juga, habisnya aku laper banget tadikan gak sempet sarapan dirumah.”
“Ya ampun lagi rebutan makanan pun Kak Andri tetep kece maksimal. Huhuhu andai aku bisa jadi pacarnya.” Kata Vera mengandai-andai.
“Helloooooo, bangun! Matahari udah tinggi juga hahaha mimpi mulu lo!” kataku mengejek Vera.

Pelajaran dimulai, kali ini mata pelajaran Biologi, dengan gurunya Bu Tantriawati yang mampu membuat murid-murid larut dalam mata pelajarannya. Pembawaannya yang asik membuatku juga mudah mencerna pelajaran ribet itu. Ah sialnya, selalu banyak tugas yang harus diselesaikan dengan tenggang waktu beberapa hari saja, bila tidak mengumpulkan tepat dengan waktu yang telah ditentukan dia akan mengamuk habis-habisan. Tetapi itu justru yang membuat murid jadi rajin.

Seperti biasa hari-hariku dipenuhi dengan tugas yang menumpuk untuk minta diselesaikan, tak ada yang istimewa dengan hari-hariku, hanya saja aku selalu diganggu dengan cerita yang sama. Vera dan Kak Andri. Ah, apakah seperti itu rasanya mengagumi seseorang? Sampai hari-harinya tak pernah bisa lepas dari cerita tentangnya. Sebernarnya aku lelah mendengar semua cerita tentang Kak Andri. Karena setahuku dia sudah memiliki kekasih, bahkan itu sudah bukan rahasia soerang saja, tetapi satu sekolah bahkan guru-guru pun tahu. Tentunya wajar bagi seorang yang sangat terkenal disekolahnya karena prestasinya dibidang olahraga. Tetapi, apakah seseorang yang hanya bisa mengagumi bahkan tak memikirkan bahwa yang dikagumi sudah memiliki seorang yang telah menjaga hatinya dengan utuh? Apakah dia tak merasakan sakit hati? Ah, entahlah aku tidak mengerti akan itu, tapi yang jelas Vera tetap mengagumi sosok Kak Andri. Tak peduli keadannya seperti apa. Mungkin.

Bel istirahat berbunyi, aku memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan. Aku memilah-milah buku yang sekiranya menarik. Ah, akhirnya aku mendapatkan novel untuk kubaca selama jam istirahat berlangsung. Aku segera mencari tempat duduk senyaman mungkin agar aku konsentrasi dengan apa yang kubaca.
“Dor!!! Tumben ke perpus? Biasanya juga ngegosip hahaha”. Seseorang membuyarkan konsentrasiku. Kulihat siapa yang mengagetkanku. Ah, dia.
“Hehe, iya nih Ka, abis bete nyari suasana tenang aja.” Ucapku pada Kak Rengga.
“Oke, semangat ya hehe.” Ucapnya sambil meninggalkanku mencari buku yang ingin dia temukan. Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan apa yang sedang aku baca.

Flashback!
Kak Rengga adalah Kakak kelasku sedari SMP. Jujur saja aku cukup kagum dengannya. Aku mulai mengaguminya ketika Masa Orientasi Siswa di SMP, kala itu semua murud baru diharuskan mendapatkan tanda tangan ketua osis. Ah, aku gagal mendapatkannya. Awalnya aku tak pernah tahu seperti apa wajah ketua osisku itu, sampai akhirnya aku diberitahu oleh temanku bahwa ketua osis kami adalah dia. Siswa kelas IX A, cukup tampan. Wajahnya yang manis dan tubuhnya yang tinggi mampu membuatku mengaguminya. Hanya kagum saja, tidak seperti Vera temanku yang tergila-gila oleh Kak Andri.
Tak disangka aku pun masuk di SMA yang sama dengannya. Kekagumanku kembali hadir ketika dialah yang menjadi pementor bagi kelompokku saat Masa Orientasi Siswa berlangsung. Selama tiga hari MOS berlangsung, aku mendapatkan tempat duduk yang strategis untuk terus memandanginya diam-diam. Aku berharap kala itu dia tidak mengetahui bahwa aku telah mengaguminya sedari SMP. Tuhan memang selalu memberi kejutan.  Bagaimanapun bentuknya, tetapi aku sangat suka dengan kejadian ini. Lamunanku burai sesaat aku mendengar bel masuk dan artinya akupun harus kembali kedalam kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya.

“Malem, ini Tyas ya?” ada pesan masuk di handphone ku dari seseorang yang tek kukenal nomor ponselnya.
“Iya, ini siapa?” Aku membalas pesannya tak lama orang itu membalas pesanku “Ini Kak Rengga.” Deg! Aku langsung terdiam, tak tau harus seperti apa ketika seorang yang kukagumi mengabarkanku. Kubalas dengan hati-hati, hingga aku menanyakan padanya dari mana dia mendapat nomor ponselku. Dia mengatakan bahwa dia mendapatkan nomorku dari biodata yang aku isi ketika MOS berlangsung. Ada rasa senang, malu, dan juga heran apa maksud dari yang telah dilakukannya padaku.
Hari berjalan seperti biasa. Tidak ini tidak biasa, kali ini aku melalui hari-hariku dengan kehadirannya. Dan, dia tak perlu tahu bahwa aku telah mengaguminya, biar ini mengalir. Aku bahagia!

Kali ini virus Vera sepertinya mulai merasukiku, aku melakukan apa yang Vera lakukan. Aku menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Kak Rengga. Hari-hariku mulai berwarna. Kak Rengga selalu memberi senyuman ketika aku tak sengaja bertemu disekolah. Ah rasanya aku ingin terbang karena melihat senyumnya.

Akhir-akhir ini aku jarang mengobrol dengan Vera, entahlah apa yang terjadi padanya. Aku lebih banyak mengobrol dengan teman yang lainnya.
“Eh, tau gak sih kemarin gue liat Kak Rengga jalan sama Vera.” Kudengar cerita itu ketika aku sedang berjalan keluar. Deg! Hatiku serasa teriris mendengar kalimat itu. Vera sudah kuanggap sahabatku sendiri, tapi mengapa dia tega melakukan hal itu padaku. Aku selalu menceritakan semua tentang aku dan Kak Rengga, tapi mengapa diam-diam dia justru menusukku dari belakang. Ini menyakitkan! Aku tidak pernah menyangka ini semua bisa terjadi. Aku marah. Ada rasa sesak didadaku. Tak terasa ku meneteskan air mata. Aku menangis.

Aku lebih memilih diam daripada aku harus bertengkar hanya karena masalah seperti ini. Aku tak mengajak Vera mengobrol seperti biasanya. Aku terlalu kuat jika aku harus bersikap seperti biasanya. Aku mendiaminya selama beberapa hari. Dan Kak Rengga, aku tak pernah mengerti dengan apa yang dia lakukan. Hari-hari berlalu begitu pelan, aku merasakannya seperti itu, tapi yang kudengar mereka sudah pacaran. Hatiku teriris lagi, namun aku tak bisa melakukan apaun, bahkan Kak Rengga tak pernah tahu bahwa aku telah mengaguminya sejak lama. Biarlah, aku hanya berpikir dan mendoakan semoga dia selalu bahagia.
“Tyas, lagi apa?”
“Lagi tiduran nih Kak, ada apa?”
“Nggak, kakak mau minta tolong, kamu kan temennya Vera. Sebentar lagi kan dia ulang tahun, bantu kakak ya bikin surprise buat dia? Mau kan?” pintanya dengan sangat.
Aku berpikir lagi. Ini sangat menyakitkanku, aku sempat menagis dan menyalahkan keadaan mengapa ini semua terjadi kepadaku sebelum aku mengiyakan untuk membantunya dihari ulang tahun Vera. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan mengesampingkan ras sakit hatiku. Esoknya aku diminta untuk menemaninya membeli kue ulang tahun dan kado untuk Vera. Aku hanya berusaha untuk menelan pahit ini bulat-bulat.
“Yang ini bagus gak?” Kak Rengga menyadarkanku dari lamunanku.
“Ah? Bagus kok Kak Vera pasti suka.” Aku hanya bisa menjawab sebisaku.
“Oke kakak ambil.”

Aku sadar Vera tahu bahwa aku tahu tentang dia dan Kak Rengga. Dia hanya terdiam tak sedikitpun mengatakan sesuatu yang membuatku bisa memaafkannya. Aku sakit hati. Dan aku marah kepadanya. Tak ada canda tawa yang hadir diantara kami seperti biasanya. Aku memilih untuk tidak duduk berdampingan dengannya. Entahlah aku rasa ini terlalu berlebihan. Tidak! Aku sakit hati, aku wajar melakukan hal itu.

“ah, berat sekali rasanya untukku melakukan hal itu.” Ucapku. Hari ini adalah hari ulang tahunnya Vera. Kak Rengga berjanji untuk menjemputku kerumah dan pergi kerumah Vera untuk memberikan surprise.
“Udah depan rumah nih.” Pesan dari Kak Rengga. Aku hanya mengiyakan dan aku bergegas.

Indahnya. Tak kusangka Kak Rengga adalah sosok yang sangat romantis. Dihari ulang tahun Vera ia memberikan kado sebuah boneka Teddy Bear dengan ukuran yang sangat besar. Kue ulang tahun yang membentukkan wajahnya, dan seikat bunga tulip. Aku semakin teriris, melihat kesakithatian ini tepat didepan mataku. Aku mencoba menenangkan diriku, aku memberikan senyum palsuku kepada mereka. Sungguh, sebenarnya aku tak kuat melihat kejadian ini, aku ingin pulang.
“Aku pulang ya. Kasian kalian takut ngerasa keganggu hehe. Selamat ulang tahun sahabat terbaikku Vera. Semoga bahagia ya sayangku.” Ucapku sembari berpamitan pulang. Aku tak ingin melihat lagi, aku cukup kesakitan dengan itu.

Selesai mandi tiba-tiba kudengar handphoneku bordering. Ada pesan masuk. Dari Vera. Apa isinya, aku lekas membuka pesan itu.
“Tyas sayang, maafin aku. Aku gak bisa menghindarinya. Aku menyukainya. Aku dekat dengannya ketika kau sering bercerita tentangnya. Aku juga tak bisa mengatakannya dengan jujur padamu Yas. Aku takut kamu marah, tapi kenyataannya kamu memang marah, dan sepertinya aku tak bisa mengembalikan senyummu. Kamu terlalu marah padaku. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, semoga kau mai memaafkanku. Maafin aku Tyas.”
Kutarik napas panjang dan kubuang pelan-pelan ku beranikan melawan egoisku untuk membalas pesan itu. “Ya, gak apa-apa, toh semua udah terjadi. Keadaan gak sesuai harapan. Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk mengagumi saja. Kalian cocok. Aku senang bila melihat Kak Rengga senang walalupun bukan sama aku. Aku memang marah, aku menangis, aku gak nyangka akmu bisa kayak gitu sama aku. Tapi mau apa lagi, semua udah kejadian. Aku gak bisa apa-apa. Aku Cuma bisa ngedoain semoga kalian bahagia. Itu aja.”

Ya, aku sekarang hanya bisa mencoba untuk merelakan dan mengobati lukaku secara perlahan. Sendirian. Aku hanya berharap semoga Kak Rengga bahagia dengan apa yang dia pilih untuk hidupnya. Aku bahagia bila dia bahagia. Ternyata aku tahu bagaimana rasanya memendam perasaan. Seperti Vera yang menyukai Kak Andri. Aku bisa merasakannya. Diam dalam kekaguman. Menyayangi dia diam-diam. Mendoakannya diam-diam tanpa perlu diketahui. Kurasa aku bisa melakukan itu. Aku harus bisa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar