Aku terbangun dari tidurku yang
lumayan lelap, karena semalam aku memang habis lembur bekerja. Kucoba untuk
mengecek ponselku, terdapat pemberitahuan satu pesan dan satu pamggilan yang
tak diangkat olehku, sebegitu lelapkah aku tertidur hingga suara ponselku tak
terdengar. Kulihat nama Gilang dalam pesan itu isinya “ Selamat Pagi Sayang, udah bangun
belum? Aku kangen, kamu kemana aja seharian kemarin gada kabar.” Langsung
kubalas pesan itu yang mengatakan bahwa aku kelelahan karena habis lembur dan
aku baru saja bangun.
***
Hari ini hari libur, waktuku
untuk bersantai. Aku tak ingin waktu liburku yang sangat berharga ini diganggu
oleh ribuan pekerjaan yang terus mencariku untuk segera diselesaikan. Aku
berencana untuk pergi rekreasi bersama Gilang. Dia adalah kekasihku, kekasih
yang sangat aku cintai. Dan aku tahu, semoga itu benar bahwa dia juga sangat
mencitaiku. Hanya itu.
“Sayang, kita ketemu di taman biasa ya.”
“Iya, sampai ketemu disana ya.”
“Iya, love you.”
“Love you too.”
Aku bergegas untuk pergi menemuinya, karena dia memang orang yang tepat waktu. Ia sering memarahiku karena masalah waktu. Ia mengatakan bahwa segala sesuatunya harus tepat waktu. Aku hanya bisa mengangguk dan menunduk seperti gadis kecil yang baru saja jatuh dari sepedanya dan sedang dimarahi oleh orang tuanya. Namun aku tahu itu adalah bukti dari perhatiannya, agar aku tak selalu mengecewakan orang lain dengan keterlambatanku.
Sebenarnya Gilang adalah sosok yang aku impikan sejak pertama aku melihatnya. Senyum yang selalu dilontarkannya mampu membuatku tidak bisa tidur, sebegitukah yang namanya jatuh cinta, aku tidak pernah bisa memahami mengapa orang yang sedang dimabuk asmara bisa melakukan hal yang semestinya tak harus dilakukan, entahlah kuyakin bukan hanya aku yang melakukan hal konyol seperti itu.
Aku celingak-celinguk mencari
keberadaannya ditaman yang cukup luas itu, ah akhirnya kudapatkan batang
hidungnya.
“Maaf aku telat hehe.”
“Udah biasa kamu telat, yaudah
ayo pergi.”
Seharian ini aku menghabiskan waktu bersamanya, pergi ketaman bermain, kebun binatang dan berakhir disebuah restoran sunda yang terletak tak jauh dari tempat kerjaku. Tempat itu sudah menjadi langganan kami. Kami langsung mencari tempat lesehan yang kosong dan memesan makanan.
Terlihat wajah bahagianya karena
kami bisa bertemu setelah kami disibukkan oleh pekerjaan kami masing-masing.
Maka dari itu hari libur adalah hari yang kurasa sangat pas untuk kami
sama-sama menumpahkan semua rasa rindu yang tertahan.
Aku dikagetkan dengan makananku
yang sudah datang.
“Cepet dimakan, nanti sakit siapa yang repot.” Kata Gilang. Aku langsung memakannya dengan perlahan.
Dalam keheningan karena aku
sedang menikmati setiap suapan makanan yang kumakan tiba-tiba aku dikagetkan
dengan sesuatu yang mampu membuatku tersedak.
“Aku mau lamar kamu.”
“Haah? Tidak salah? Kok gada
basa-basinya hahaha.” Sifatku yang periang memang membuatku easy going.
“Aku serius Diandra Vellita Syah!
Harus berapa kali aku mengatakan ini?” begitu lantangnya dia menyebut namaku,
dan meminta seperti itu terus.
Perkataanya membuatku dalam sekejap terdiam. Sebenarnya aku bisa saja mengatakan aku mau menikah dengan dia hanya saja mengapa sebagian dari pikiranku mengatakan bahwa aku belum siap menikah padahal bila dilihat dari ekonomi kami sudah sama-sama mapan untuk bisa menghidupi keluarga, tapi entahlah mengapa aku belum saja siap dengan itu, dan ini adalah ajakannya yang keempat.
“Sayang, Kamu mau kan nikah sama
aku? Tanya Gilang penuh harap kepadaku. Dilihat dari tatapan matanya yang
begitu tulus aku bisa menyimpulkan bahwa dia memang benar-benar mencintaiku dan
menginginkan aku seutuhnya untuk menghabiskan hidupnya bersamaku.
Aku hanya bisa terdiam, tak tahu
harus bagaimana.
“Aku…Aku belum si..”
“Belum siap? Selalu itu yang kamu
bilang, kalau kamu merasa belum siap lalu mau kapan kamu siap? Kamu belum
percaya sama aku?”
“Aku percaya sama kamu Gilang
Fudlyansyah, emm tapi…”
“Tapi apa?”
“Aku belum bisa menjawab itu, aku
belum siap dengan sebuah pernikahan.”
“Baiklah, aku akan menunggu
sampai kamu menjawab bahwa kamu bersedia menikah denganku.”
***
Aku bergulat dengan pikiranku
sendiri, menangis sejadi-jadinya, memikirkan semua tentang Gilang yang sangat
sempurna dimataku. Aku ingin menikah dengannya, aku ingin menjadi ibu untuk
anakku nantinya. Setiap pagi sibuk membantu anakku untuk bersiap-siap pergi
kesekolah, sibuk membuat sarapan untuk kami, dan pergi bersama diwaktu
senggang. Indah rasanya. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu, aku belum siap
dengan semuanya, aku tidak ingin mengecewakan Gilang. Aku terlalu takut untuk
tidak bisa membuatnya bahagia dengan pernikahan ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk
pergi dari Bandung, meninggalkan semuanya tentang kota yang membesarkanku,
meninggalkan pekerjaanku yang tertunda. Biarlah, aku hanya ingin menenangkan
pikiranku yang kalut memikirkan ini-itu. Aku meninggalkan Gilang tanpa memberi
kabar apapun. Aku yakin dia akan mencariku tanpa henti. Biarlah. Aku ingin
sembunyi dari hiruk pikuk. Dari Gilang juga tentunya.
***
Tok tok tok
“Permisi.”
“iya tunggu sebentar.”
“maaf gue mau Tanya ini bener
rumahnya Gilang Fudlyansyah?”
“Iya. Gue Gilang, ada apa? Lo
siapa?”
“Maaf sebelumnya, perkenalkan
nama gue Nindy, gue temennya Diandra…”
“Jadi kamu tau Diandra dimana?
Tolong kasih tau gue dimana Diandra, please.” Pinta Gilang dengan sangat.
“Iya. Gue bakal ceritain nanti
tapi lo yang tenang dulu.”
“Apa maksud perkataan lo?
Silahkan masuk dan mending cepet ceritain dimana dia, gue kangen banget sama
dia. Please.”
“iya. Tapi Diandra cuma nitipin
ini sama gue. Silakan dibaca.”
Sayangku, seseorang yang mampu
membuatku merasa sempurna. Unutukmu seorang yang mampu membuatku berarti,
tenanglah aku baik-baik saja disini. Maafkan aku karena telah pergi diam-diam,
maafkan aku karena aku telah membuatmu khawatir akan keadaanku. Maafkan aku
juga yang tak segera menjawab pertanyaanmu saat kita sedang makan direstoran
waktu itu. Jika aku boleh mengatakan sesuatu, sebenarnya aku sangat ingin
menjawab iya untuk pertanyaan itu, aku ingin menjadi bagian dari hidupmu
seutuhnya, kamu boleh menjadikanku belahan jiwamu dan mencintaiku dengan utuh.
Rasanya indah bila membayangkan kelak kita akan sibuk dengan mengurus sosok
yang mampu membuat kita kesal, jengkel, senang, bahagia dan tentunya kita
mencintainya dengan sepenuh hati, Sayang.
Berulang kali aku memantapkan
hatiku untuk bisa membuat bibirku mengucapkan dengan lantang bahwa aku mau
menjadi bagian dari hidupmu selamanya, bersedia mencintaimu dengan tulus, berusaha
untuk selalu membuatmu bahagia selamanya, tapi entah mengapa aku tidak bisa
mengatakan kalimat itu dengan lantang. Rasanya ada sesuatu yang membuatku
terhenti dan tak bisa berkata-kata.
Aku terkena Leukimia, aku tak
tahu kenapa aku bisa mengidap penyakit yang mematikan ini, maaf jika aku tak
mengatakan hal ini kepadanmu. Sebenarnya ini yang membuatku takut akan
pernikahan. Aku takut untuk tidak bisa membahagiakanmu. Aku terlalu takut untuk
nantinya membuatmu sedih. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku jika aku tiba-tiba
pergi meninggalkanmu. Aku yakin kamu pasti menemukan seorang yang mampu
membuatmu lebih bahagia dibanding aku. Aku mencintaimu Gilang, aku cinta dengan
sepenuh hatiku. Akan aku ceritakan pada bidadari disurga sana bahwa aku
mempunyai cinta yang kubawa hingga aku berada bersama mereka dan itu kamu
Gilang.
“Diandra pergi setelah lo melamar
dia waktu itu, dia emang cinta banget sama lo. Tapi, dia gak mau ngecewain lo
dengan keadaan dia yang lagi sakit keras. Dia gak cerita sama lo tentang
penyakitnya karena dia juga gak mau bikin lo sedih. Dia bilang sama gue, bahwa
dia mau jadi pendamping lo tapi balik lagi, kayaknya itu gak mungkin. Dia juga
pergi diam-diam dari lo cuma dengan maksud ingin menyembuhkan penyakitnya yang
makin lama makin parah. Dia Cuma lagi berusaha melawan penyakitnya, dia harus
bulak-balik rumah sakit buat kemoterapi. Tapi hasilnya nihil. Keadaan dia makin
lama makin buruk. Penyakit it uterus menggerogoti tubuh mungil Diandra. Selama
gue menemani dia berobat, dia sangat semangat untuk hidup. Dia selalu cerita,
bahwa dia akan menjawab pertanyaan yang belum dia jawab buat lo. Tapi emang
semua kenyataan gak selalu bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Diandra pergi
begitu cepet, dia pergi ketika penyakitnya kambuh dan saat itu gue lagi manggil
dokter buat meriksa dia. Keadaan gak sesuai dengan harapan. Tapi sebelum dia
pergi, dia sempet kasih surat ini buat lo. Dia kasih juga alamat lo dimana biar
gue bisa dengan mudah kasih surat itu. Dia minta sama gue buat kasih surat itu
ketika gue udah pergi buat selama-lamanya. Dan mungkin ini adalah waktu yang
tepat buat gue kasih surat itu, Lamg. Maafin gue, gue gak bisa berbuat apa-apa
buat lo, karena ini permintaan terakhir Diandra.” Ucap Nindy dengan penuh air
mata.
“Iya, gue ngerti itu semua. Semua
udah berlalu. Udah gak ada lagi yang bisa gue tunggu didunia ini. Diandra udah
pergi ninggalin gue. Lalu apa yang harus gue lakukan sekarang?”
“Lo harus tetap jalani hidup lo
meski tanpa dia. Itu yang diucapin Diandra. Dia yakin bahwa ada prang yang
lebih tepat untuk bisa bersama lo.”
“Terimakasih karena lo udah kasih
tau semuanya.”
***
Kini aku hanya bisa merenung.
Menyadari bahwa seseorang yang aku cinta dengan sepenuh hati telah pergi
meninggalkanku. Ya, aku sadar sekarang bahwa sesuatu yang kita harapkan dan
kita inginkan tak selalu sesuai dengan takdir Tuhan. Usahamu untuk
memperjuangkan hidupmu tak bisa melawan takdir yang telah digariskan Tuhan.
Mungkin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah untukku dan juga kamu,
Diandra. Tenanglah kamu disana, berbahagialah kamu dengan bidadari-bidadari
surga disana. Meneguk air dari sungai yang jernih, biar aku disini sendiri
terpasung dengan kenyataan yang menyedihkan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar