Malam ini,
ku mencoba untuk menghadirkan wajahnya dilangit-langit kamar. Matamu berbinar
bahagia, bibirnya melengkungkan senyum termanisnya. Kukira Tuhan telah sempurna
menciptakanya.
Tuhan, mengapa
Kau ciptakan makhluk yang sempurna itu?
Mengapa Kau
justru mempertemukanku dengan makhluk itu?
Mengapa Kau
justru membuatku untuk mencintainya, Tuhan?
Mengapa Kau
membuat mataku nyaman ketika aku melihat raut nya yang manis?
Ada apa
dengan raga ini, Tuhan? Ada apa dengan hati ini? Seakan aliran listrik menyengat
dengan tegangan terbesarnya ke tubuhku ketika ketemukan sosoknya disekeliling
pandanganku dan seketika mataku kaku tak bisa memandang kearah selain dirinya.
Ada apa
dengan semua ini, Tuhan?
Ketika ku
tahu rasa ini hanya milikku saja, mengapa aku masih tabah menceritaknnya padaMu?
Meminta dengan lancang padaMu untuk menjaganya dan menyampaikan rindu yang
telah bertumpuk sejak lama.
Tuhan,
mengapa aku tak bosan dengan aktivitasku yang melulu seperti ini? Mengapa aku pun
memintaMu agar aku bisa terus menceritakan ini dan memintaMu kembali
menyampaikan rindu itu serta mendoakannya penuh pilu.
Tuhan, malam
sunyi ini, disaksikan bulan yang tengah purnama dengan lancangnya aku kembali
meminta padaMu untuk menyampaikan rindu itu. Rindu yang kurajut dengan benang
air mata. Rindu yang telah kukumpulkan sejak lama, rindu yang kusimpan dengan
rapi, rindu yang ku tata dengan apik dihatiku, rindu yang tersimpan sempurna tiada
tercecer sediktpun.
Tuhan,
sampaikan rinduku pada makhluk yang mampu membuatku seperti ini. Yang mampu
membuatku diam dalam rindu yang menggebu.
Tuhan,
maafkan aku karena aku lancang menjadikanMu sebagai perantara rinduku padanya.
Dan untukmu
Tuan, maafkan aku yang masih sibuk merangkai rindu untukmu. Maafkan aku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar