Kepada
kamu yang menghilang, kepada kamu yang tak tahu dimana sekarang. Apa kamu
mendengar jeritan tangis yang amat hebat, jeritan tangis yang diliputi rasa sesak
karena menahan rindu yang amat dalam. Rindu yang diketahui tak akan pernah
mendapat balasan. Hanya mampu tertahan
dalam lubuk hati yang terdalam, mencoba mengatakan kepada bibir ini untuk tidak
mengutarakannya. “Tahanlah, cobalah untuk menahannya walaupun hati ini sudah
dipenuhi oleh rasa sesak itu. Aku tak apa. Biarlah, biar saja dia tidak tahu
akan itu”. Katanya.
Kepada
kamu yang dipenuhi oleh rindu dari sosok yang sama. Sosok yang tidak akan mungkin ingin kamu
gapai, sosok yang seharusnya lenyap dari pikiranmu, tetapi masih sibuk untuk
mengumpulkan ribuan rindu yang mungkin bisa saja meledak jika memang dia sudah
merasakan sesak dan tidak lagi kuat untuk menahannya. Mungkin sewaktu-waktu
kamu akan ditampar sebegitu kerasnya oleh rindu-rindu yang telah dikumpulkannya
sejak lama.
Kepada
kamu yang pergi diam-diam, entahlah, aku tidak tahu akan seberapa banyak rindu
yang aku kumpulkan, rindu yang sangat hebat yang hanya bisa mampu kutahan
sendirian, merindukan segalanya tentang kamu.
Kepada
kamu yang selalu aku rindukan tanpa henti, aku berharap dalam diammu, aku
berharap dalam hilangmu, aku berharap dalam ketidakpedulianmu, aku berharap
dalam sikap dinginmu, kamu juga merindukanku dalam diam, bahkan merindukanku lebih
dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar