Kini aku hanya
bisa tersenyum melihat kenyataan yang hampir mencambukku setiap hari, senyum
yang ku buat-buat. Sedih, sakit, serasa hati diremas begitu kencang. Sangat
sesak rasanya. Berkali-kali aku pikirkan lagi, aku berdebat dengan diriku
sendiri. Disatu sisi diriku berkata ini tidak mungkin terjadi, pastilah ini
hanya sebuah lelucon saja. Namun disisi lain diriku berkata mungkin saja itu
benar, dan kamu harus siap menerimanya.
Apa yang harus
aku lakukan sekarang? Terperangkap dalam sebuah rasa yang dijatuhkan dengan
kerasnya tanpa sempat terbalaskan. Terdiam, membayangkan betapa bahagianya
orang yang kini bersamamu. Penuh canda tawa, perhatian, kasih sayang disetiap
harinya. Sedangkan aku? Tertunduk , menahan sesak yang memberatkan
pernapasanku, yang secara tak sadar mataku pun ikut terbawa oleh suasana hati
yang sesak itu. Tangis yang berusaha untuk kutahan, namun akan sangat sakit
lagi bila memang harus ditahan.
Tersenyum dalam
setiap harimu yang bahagia, dan menyedihkan karena sebab bahagiamu bukanlah aku. Melihatmu mampu
menyejukkan orang yang mencintaimu, sedangkan aku? Hanya sendiri berusaha
mengobati diri agar tak terlalu sakit dengan kenyataan menyakitkan itu.
Aku bahagia bila
kamu disana bahagia, dengan orang yang mencintaimu. Tapi akan lebih bahagia
lagi jika akulah penyebab bahagiamu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi
sekarang. Rasanya apa yang aku lakukan, aku usahakan, aku perjuangkan adalah
suatu yang sia-sia. Karena kamu sudah menemukan sosok yang bisa membuatmu
bahagia setiap harinya.
Mungkin banyak
orang yang mengatakan “Pergi sajalah, jika kamu bertahan dengan kenyataan yang
sudah jelas menyakitkan, mau sampai kapan hatimu tersakiti? Sedangkan orang
yang kamu cintai tidak pernah memedulikanmu, memikirkanmu sedikit saja tidak.”
Ya, kupikir kata-kata itu benar, tetapi mengapa sebagian dari diriku sibuk
menolak kalimat-kalimat itu, selalu membuat bahwa semuanya akan baik-baik saja
walaupun pada nyatanya sudah jelas pada nyatanya aku yang tersakiti disini.
Dalam setiap
getir doa yang ku ucap untukmu, tenanglah aku tak pernah mendoakan hal yang
buruk menimpa kepadamu. Hanya aku meminta kepada-Nya untuk selalu membuatmu
bahagia, berdoa agar kamu tak pernah ada diposisi yang sama sepertiku saat ini.
Jangan, jangan pernah, ini sangat menyakitkan untuk kamu alami.
Berbahagialah
kamu dengan orang yang mampu membahagiakan hidupku, membahagiakan harimu, mampu
membuatmu jatuh dipundaknya ketika kamu merasakan lelah, mampu membuatmu
tersenyum, bahkan tertawa bila kamu merasa bosan, yang mampu memberi perhatian
yang besar sesuai yang kamu inginkan. Mungkin semuanya hanya ada pada dirinya,
bukan aku, bukan aku yang sebenarnya bisa memberikan lebih dari itu. Tapi itu
pilihanmu. Tak apa, biar aku disini sendiri, meratap, dan berharap sesuatu yang
tak akan mungkin pernah bisa kugapai. Kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar